Obrolan di Bawah Rindangnya Cemara (12): Kelemahan Sekolah Agama Terpadu

Suasana kelas sebuah sekolah Islam terpadu. Satu kelas didampingi 2 guru dengan fasilitas kelas yang mewah: bersih, berAC dan proyektor yang tertancap di langit-langit sekolah. (dok. pribadi)
Inilah kelemahan terbesar menurut saya. Mungkin Anda terkejut, anak Anda bisa malah memberitahu atau memerintah Anda. Kalau Anda tidak siap dengan ini semua, janganlah anak Anda dibawa ke sekolah ini.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Setelah saya menulis di serial ini tentang sekolah agama terpadu, banyak yang membaca, berkomentar bahkan men-tweet saya. Sepertinya jadi tulisan yang paling laris di serial ‘Obrolan di Bawah Rindangnya Cemara’ ini. Hehehe. Dalam artikel itu saya menjelaskan apakah sekolah agama terpadu itu dan keunggulannya.

Kali ini saya akan meneruskan artikel itu, tapi saya akan mengupas kelemahan/kekurangannya. Sehingga kita dapat bersiap untuk menyiapkannya, sehingga kelemahan/kekurangannya bisa teratasi. (Anda bisa membaca artikel yang saya maksud tersebut di sini, Perlukah Disekolahkan di Sekolah Islam Terpadu?

Sekolah agama terpadu adalah sekolah yang memadukan antara pelajaran umum berdasarkan kurikulum nasional dengan pelajaran agama. Kebanyakan yang dimaksud dengan sekolah agama terpadu adalah sekolah Islam terpadu. Untuk di Surabaya, yang saya tahu pionirnya adalah sekolah Al Hikmah. Tapi sekarang sudah cukup banyak sekolah seperti ini di seluruh penjuru Surabaya dan Sidoarjo.

Begitu banyak muatannya sekolah ini, maka jam pelajarannya menjadi lebih panjang. Bisa hampir seharian. Sehingga sekolah ini sering dinamakan sebagai ‘full day school’. Karena melewati jam makan siang, maka siswa sekolah ini perlu makan siang. Biasanya sekolah menyediakan makan siangnya. Meski ada yang meminta siswanya membawa bekal dari rumah.

Jadi di sekolah Islam terpadu ini, para siswa selain belajar pelajaran umum seperti matematika, bahasa Indonesia, IPA, IPS dan lainnya juga belajar agama. Pelajaran yang terkait dengan agama ini di antaranya mengaji, hafalan doa, hafalan hadits, shalat jamaah wajib dan sunnah (seperti Dhuha), sejarah Islam, fiqih dan lainnya. Termasuk juga pembentukan akhlak, tingkah laku dan kebiasaan Islami.

Jadi tak hanya dihafal tapi langsung dipraktekkan. Misal yang saya tahu, setelah berwudhu mereka berdoa, dan sesaat sebelum masuk ke masjid akan berdoa. (Keduanya tidak saya lakukan. Ini mungkin karena pelajaran di sekolah saya tak terpadu. Dulu cuma dihapal di kelas, tapi tak pernah dipraktekkan. Jadinya lupa).

Saya menganggap sekolah agama terpadu bagaikan pesantren bagi siswa Islam tapi siswanya tak menginap.

Memang menyenangkan sekolah ini. Tidak ada pemisahan antara agama dan kehidupan sehari. Misal: dulu waktu saya kecil, saya belajar pengetahuan di sekolah, lalu sorenya saya belajar mengaji di mushalla. Keduanya tak terkait. Berbeda dengan sekolah agama terpadu ini.

Sekolah ini menilai bahkan mentargetkan siswanya selain menguasai pelajaran umum, juga pelajaran agama. Misal: di sekolah anak saya, setiap siswa yang lulus dari SD harus sudah menyelesaikan bacaan al Qur’an, hafal juz Amma, hadits pilihan dan doa-doa pendek. Jadi cukuplah bekal kalau anak-anak disekolahkan di SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu).

Lalu apa kelemahan/kekurangannya?

1. Mahal.
Kekurangan tentang ini sudah saya singgung di artikel sebelumnya. Saya menduga-duga mahalnya sekolah ini karena beberapa hal.

Pertama, biaya makan. Sekolah yang menyediakan makan sekolah, maka biaya makan siang ini jadi beban orang tua. Ada beberapa sekolah yang tidak menyediakan makan siangnya, tapi meminta siswanya membawa bekal dari rumah. Anak saya awal-awalnya demikian, yang nantinya sekolah mewajibkan semua siswanya harus makan dari sekolah. Bila sekali makan Rp 10.000,- maka sebulan sudah dihitung Rp 200.000,. Ini dengan catatan sekolah cuma 20 hari. (Biasanya Sabtu libur).

Kedua, ‘full day school’ menyebabkan guru-gurunya harus penuh mengajar di sekolah ini. Padahal biasanya dengan jam sekolah hanya setengah hari, guru-guru masih bisa mengajar di sekolah lain. Istilahnya ‘nyeper’. Karena para guru ini tidak bisa ‘nyeper’ atau full bekerja di sekolah ini, maka relatif gaji yang diberikan sekolah lebih banyak daripada sekolah yang setengah hari.

Ketiga, ini masih kaitannya dengan nomor 2 di atas. Pengalaman anak saya, setiap kelas disediakan 2 guru. Ini terjadi dari kelas 1 sampai kelas 4. Kelas 5 dan 6, baru menggunakan konsep guru pelajaran. Tentunya dengan tambahnya guru di kelas akan mengakibatkan biaya pada sekolah.

Keempat, fasilitas sekolah yang wah. Biasanya untuk sekolah seperti ini fasilitas fisik dan non fisiknya bagus. Bangunan sekolah megah dan bertingkat. Perpustakaan luas, nyaman dan lengkap. Laboratorium komputer lengkap dengan komputer terbaru serta koneksi internet kencang. Bahkan ada wifi spot yang gratis. Kelas berAC dan proyektor yang tersedia tiap kelas. Kebersihan kamar mandi dan kelas terjaga, karena sudah ada petugas kebersihan sendiri. Bahkan untuk sekolah anak saya, petugas kebersihan ini di-outsource ke perusahaan lain.

Kelima, kegiatan intra dan ekstra sekolah yang banyak dan gratis. Seperti saya tulis di artikel sebelumnya, kegiatan sekolahnya begitu banyak dan dipadukan dengan pelajaran. Jadi tidak ada pemisahan. Juga tidak seragam. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa, sehingga sangat menyenangkan. Dalam waktu-waktu tertentu mereka melakukan kegiatan di luar sekolah. Semua ini gratis. Tak minta biaya lagi. Jadi orang tua tak perlu diributkan lagi biaya ini-itu lagi.

Berapa sih sebenarnya mahal itu? Ini saya tuliskan dari pengalaman pribadi dan riset di internet.

– SD Raudhatul Jannah di Sidoarjo (2012):
SPP sebulannya Rp 500.000,- Untuk uang gedung sekitar Rp 6.000.000,-.
– SD Al Hikmah Surabaya:
SPP Rp 700.000,- dan uang gedung Rp 13.500.000,-
(Ini di tahun 2008, saya dengar untuk tahun 2012, SPP sudah di atas Rp 1.000.000,-)
– Al Muslim Sidoarjo (2012):
SPP Rp 650.000,- dan uang gedung Rp 8.300.000,-.
– Al Azhar Surabaya (cabang Kebayoran baru Jakarta/2012):
SPP Rp 600.000,- dan uang gedung Rp 14.300.000,-

2. Biaya Transport.
Sekolah Islam terpadu seperti ini tidak begitu banyak. Untuk Surabaya paling banyak hanya 10. Demikian juga di Sidoarjo, kota tempat tinggal saya. Tidak seperti sekolah dasar negeri yang selalu ada di tiap desa/RW. Sehingga dari sekolah ke rumah, relatif dekat. Bahkan sekolah saya dulu hanya berjarak 100 meter, sehingga lonceng sekolah sampai terdengar di rumah.

Sedangkan sekolah Islam terpadu karena tidak begitu banyak, maka sekolah yang terdekat masih relatif jauh dari rumah. Beruntunglah kalau Anda dekat dengan sekolah ini. Saya sendiri dari sekian sekolah seperti ini yang telah saya ketahui dan datangi, jarak yang paling dekat adalah 5 km. Sehingga sang anak, khususnya kalau masih duduk di SD, akan kepayahan kalau berangkat dan pulang naik sepeda. Apalagi jalan kaki. Hehehe. Saya sendiri mengantarkan saja naik motor memakan waktu sekitar 15 menit.

Lha kalau Anda tidak sempat mengantar jemput sendiri, maka Anda harus mengeluarkan tambahan uang untuk transport. Biayanya juga tak sedikit. Tergantung jaraknya, tapi Anda harus bersiap mengeluarkan tambahan uang transport minimal Rp 200.000,-.

3. Perhatian penuh.
Pikir masak-masak, kalau Anda bebas dari kesibukan mengurus sekolah kalau Anda mensekolahkan anak-anak ke sekolah Islam terpadu ini. Yang sederhana dan rutin dilakukan tiap hari, adalah Anda harus mengisi buku penghubung yang berisi kegiatan anak-anak yang sudah dilakukan di rumah. Misal: apakah dia telah shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib dan lain-lain.

Anda juga sering diminta ke sekolah untuk berkomunikasi dan berkonsultasi tentang perkembangan anak. Dulu rasanya orang tua hanya datang ke sekolah saat mengambil rapor saja. Itu cukup 4 bulan sekali. Kalau di sekolah ini lebih sering. Bahkan ada saat anak akan menunjukkan prestasi atau kemampuannya di depan orang tua. Belum saat-saat tertentu ada undangan untuk mengikuti seminar/training tentang menjadi orang tua yang baik (parenthing). Kalau Anda sibuk, dan tak punya waktu untuk demikian, berpikirlah sekali lagi untuk menyekolahkan ke sini.

4. Tak ada PR/Tugas.
Saat malam hari setelah pulang kantor, Anda ingin bersantai dengan tenang tanpa gangguan anak-anak. Maka biasanya dulu para orang tua meminta anak-anaknya belajar. Minimal mengerjakan PR/Tugas. Kalau sekolah anak Anda di sekolah Islam terpadu, maka Anda tak bisa menyuruh anak-anak demikian. Karena sekolah jarang memberikan PR. Sekolah seharian penuh, sehingga semua kegiatan pendidikan (belajar, menulis, berlatih dan lain-lain) dikerjakan sepenuhnya di sekolah. Di rumah mereka malah harus beristirahat lebih awal, agar fresh sekolah keesokan harinya.

5. Contoh dari Orang Tua.
Bila anak Anda disekolah di sini, siap-siap saja Anda diprotes dan disemprot oleh anak-anak Anda. Misal: bila shalat Anda bolong-bolong (kadang shalat kadang nggak), maka Anda bisa diprotes karena Anda tidak shalat. Kalau sekali dua kali tak apa, tapi kalau sering Anda mungkin stress disemprot terus. Jadi kalau Anda tak bisa memberi contoh baik, Anda bersiap bentrok dengan anak-anak.

Saya pernah dengar cerita dari teman istri, bahwa anak-anak putrinya protes karena mamanya sering mengenakan baju-baju sexy kalau keluar rumah. Padahal pakai pakaian seperti ini jadi kesukaannya. Anak-anak meminta untuk tidak hanya memakai pakaian yang sopan, tapi pakaian muslim. Bagi orang tua yang tak siap dengan ini, bersiaplah. Minimal saat ke sekolah untuk menjemput atau mengambil raport, Anda khususnya mamanya anak-anak harus memakai pakaian muslim.

Inilah kelemahan terbesar menurut saya. Karena Anda tidak bisa menyuruh-nyuruh, tanpa Anda melakukannya sendiri. Misal: Anda meminta anak Anda sebagai anak sholeh, untuk selalu jujur, tapi Anda sendiri tidak jujur. Maka anak-anak akan tahu bahwa Anda salah. Demikian mudah mereka tahu bahwa Anda salah. Bahkan mungkin Anda terkejut, kalau pengetahuan agama anak Anda lebih tinggi daripada Anda. Maka anak-anak Anda bisa malah memberitahu atau memerintah Anda. Kalau Anda tidak siap dengan ini semua, jangalah anak Anda dibawa ke sekolah ini. Hehehe. [TSA, 12 Ramadhan 1433H / 31 Juli 2012M subuh]

~~~
Serial “Obrolan di Bawah Rindangnya Cemara” ini adalah janji saya di awal bulan puasa 2012 untuk membuat sebuah kegiatan yang bermanfaat dan berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan saya yang lain. Yakni membuat sebuah tulisan setiap harinya selama bulan Ramadhan. Semoga bisa! Amin.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .

118,398 total views, 135 views today

Comments

  • a thought by Anda berniat menyekolahkan ke sekolah ag « ..| Home of Mochamad Yusuf |..

    […] dapat membaca artikel terbaru saya. http://www.enerlife.web.id/2012/obrolan-di-bawah-rindangnya-cemara-12-kelemahan-sekolah-agama-terpad… Like this:LikeBe the first to like […]

    Reply

  • a thought by ilham

    hm… Agak kurang setuju gimana gitu ya soal kelemahan .

    1.Mahal
    Okelah, emang mahal utk standar sklh di indonesia. No comment. Tp biaya spp yg di sebutkan diatas itu bener2 tnp biaya tambahan2 lain.(biasanya keg luar sklh itu 1 tahun, 3-4 kali)

    2.Transport
    Relative sih. .b’dasarkan dekat-jauh rumahnya.bnyk juga kok yg rumahnya deket sklh .Kalo pp gresik-sby atau yg lain beda lagi ceritanya.

    3.Perhatian Penuh
    saya rasa ini bukan kelemahan. Ini bisa sbg digunakan utk mempererat hub. Ortu dan anak,Nggak bnyk loh orang tua yg tau apa yg dilakuin anaknya di sklh. kl dikasi ceklist solat, otomatis anak diberi tanggung jwb utk isi ceklist itu dg jujur.
    Utk training itu gk wajib dan gk sering, kl ortu punya waktu senggang mungkin baru ikut(kalo tertarik). Kalo seminar itu biasanya cuma awal masuk, biasanya guru presentasikan rancangan kegiatan belajar mengajar gitu..dateng konsultasi itu kelemahan? Nah!ini nih yg sering dilupain omnya, jgn cuma maunya bayar trus minta sm sekolah jadi’in anaknya pinter,rajin ,dll. Kt guru sy di alhikmah sekalipun 2/3 kegiatan sering disekolah tp tetep perkembangan siswa itu berdasarkan lingkungan sklh dan hub harmonis rumah juga.

    4.Tak ada PR
    Ini apanya om yg salah?? hehehe. Anak nggangu Santainy orang tua dlm bentuk apa ya? .. setahu sy ortu merasa terganggu biasanya kalo anaknya disuruh ngerjain PR tp gk mau gitu ya? trus ortunya marah2. Mungkin itu ya yg dikira ganggu?

    5.Contoh dari Orang tua
    ini apanya om yg salah?? Lagian kalo di “semprot” anak utk solat ya alhamdulillah toh om. Toh juga kl anaknya baik, orang tuanya juga kecantol masuk surga.

    Hehe.. beda orang beda sudut pandang om ya.
    😀

    Reply

    • a thought by Mochamad Yusuf

      @Ilham
      Hehehe…

      Reply

  • a thought by Surabaya info dan event

    trims infonya..sangat bermanfaat sob…
    Surabaya info dan event recently posted..HIV/AIDS Surabaya Terbanyak Se-Jawa TimurMy Profile

    Reply

    • a thought by Mochamad Yusuf

      @Surabaya info
      Sama-sama.

      Reply

  • a thought by Agung Budiman

    tulisan ini sepertinya salah judul deh om Yusuf…hehehe..kok semua yg disebut itu adalah kelebihan dari JSIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu) ya…hehehe..kayaknya saya setuju deh dengan sudut pandang Pak Dhe Ilham diatas, betapa bahagianya saya klo bs mendidik anak menjadi lbh hebat, lbh takzim pd ortu, lebih hormat, lebih alim, dari kita

    Reply

  • a thought by Obrolan di Bawah Rindangnya Cemara (2): Perlukan Disekolahkan di Sekolah Islam Terpadu? | Enerlife

    […] (Update terbaru: Eits, ternyata sudah saya temukan kelemahan/kekurangannya. Anda bisa memmbacanya di sini, http://www.enerlife.web.id/2012/obrolan-di-bawah-rindangnya-cemara-12-kelemahan-sekolah-agama-terpad…) […]

    Reply

  • a thought by Kubah [9]: Mencarikan Pendidikan Terbaik Bagi Anak | Enerlife

    […] artikel saya yang lain. Yakni “Perlukah Disekolahkan di Sekolah Islam Terpadu?” dan “Kelemahan Sekolah Agama Terpadu/.” [PR, 23/1/2013 […]

    Reply

  • a thought by ratna

    setuju dgn mas ilham dan mas agung.

    selain masalah biaya, aku ngerasa yg mas yusuf sebutin itu malah kelebihan SDIT 🙂

    org tua memang harus tau perkembangan anak, krn anak2 adalah amanah yg dititipkan oleh Allah kepada orang tua. bukan kpd guru2 sekolah.

    msalah anak “nyemprot”, itu bagus kan. yg mas yusuf sebutkan ttg baju seksi itu jelas2 salah dalam agama. punya anak yg soleh/solehah kok malah takut 🙂

    Reply

    • a thought by Mochamad Yusuf

      @Ratna
      Bagi beberapa orang mungkin beda dengan pandangan sampeyan… Hehehe.

      Reply

  • a thought by Aria R Tangguh

    Kirain apa, hehehehe udah berprasangka yg jelek dulu, maaf ya.
    saya yakinkan anaku untuk masuk SMPIT.
    oya tapi apa bedanya SMPIT dengan SMP islam?
    setahu saya SMPIT ujian seleksinya baca Al-Qu’an sedangkan SMP islam tidak ada.
    benarkah pendapatku ini?

    Reply

  • a thought by agung

    Tergantung niatnya menyekolahkan anak2 kita krn anak amanah Alloh,dan sy merasa comment diatas masuk akal dan bagus…

    Reply

    • a thought by Administrator Enerlife

      @Agung
      Siip. Terima kasih sudah mampir.

      Reply

  • a thought by widi syah

    Hehehe.., bisa aja 😀

    Reply

  • a thought by SD Islam Terpadu Unggulan Surabaya

    Pernytaan akan kelemahan-kelemahan di atas hanyalah sebuah paradoks yang sebenarnya mengandung kalimat persuasif/iklan. Hmmm boleh juga 🙂

    Salam Kami, SD MUTIARA ISLAM SURABAYA

    Reply

  • a thought by kastur

    artikel yg fresh,, krna sy pengajar di SDIT, mk sy baca dgn seriusnya kata demi kata,, sampe pada akhir tulisan, hasilnya cenga-cengir sendiri.. hehehe..yang bapak sebutkan itu adalah diantara “kelemahan” SDIT yg dpat menyelamatkan orang tua dari neraka,,, good luck

    Reply

  • a thought by Zulkarnain Simbolon

    Kelemahan…
    tp itu menjadi alasan…
    kenapa sich mesti masuk SIT…
    SIT…. bravo.

    Reply

    • a thought by Administrator Enerlife

      @Zulkarnain
      Begitu ya? Tiap orang mungkin beda melihatnya… Hehehe.

      Reply

  • a thought by waskito

    1. Mahal?
    Relatif. Di daerah saya (bekasi) yg kualitasnya menengah rata2 hanya 6-7juta/tahun biayanya.
    Soal mahal saya maklumi. Seimbang dengan apa yg anak dapatkan.

    2. Biaya transport
    Ga bisa dibandingin yg ini. Di bekasi banyak soalnya. Di dekat rumah saya (radius kurang dari 2km) malah sudah ada 2 SDIT. Yg satu 5 besar favorit di bekasi, yg satu lagi relatif baru (baru berdiri 4th yl).

    3. Perhatian penuh.
    Yg ini cuma ada 1. Cuma shalat saja yg harus dicatat. Ga menghabiskan waktu & memang penting, karena shalat harus diajarkan sedini mungkin. Sampai2 ada hadits nabi Muhammad SAW yg “pukullah (secara ringan) untuk menyuruh anak shalat kalau dia tidak mau”. Berarti bagus, sudah menjalankan sunnah nabi Muhammad SAW

    4. Tidak ada PR?
    Ini aneh. Justru hampir setiap hari ada PR. Kadang saya sendiri yg membantunya.

    5. Contoh dari orang tua.
    Kalau salah lalu diingatkan anaknya tetap tidak berubah, berarti orang tuanya bodoh. Sudah diberitahu yg benar tapi cuek kan berarti bodoh. Padahal orang tua sudah tau mana yg benar & mana yg salah (akil baligh).
    Ibunya pake baju seksi, padahal anaknya ke sekolah pake baju muslim. Ini juga ibunya berarti tolol. Sudah tau hijab wajib tapi dilanggar. Sekalipun anaknya belum sekolah atau belum punya anak sekalipun, pakai hijab ya memang wajib. Kalau anaknya protes?? Ya alhamdulillah berarti udah diingetin. Goblok aja kalo diingetin marah. Justru salah satu sunnah nabi Muhammad SAW, sesama saudara (muslim) harus saling mengingatkan. Kalo ga mau ikut sunnahnya, islam apaan?
    Salah satu kelebihan saya menyekolahkan anak saya di SDIT adalah, dia hafal surat-surat panjang. Saya kaget & malau waktu dia baca surat Al Fajr, karena saya TIDAK hafal 1 ayat pun. Berawal dari itu, KINI saya bersemangat MENGHAFALKAN Al Qur’an.

    Kalau saya simpulkan tulisannya, yg menulis artikel di atas (mas Muhammad Yusuf) lebih ke liberal. Kalau condong dengan ke agama, pasti tidak akan mengulas spt itu. Di lingkungan saya, para orang tua justru berlomba2 menyekolahkan anaknya ke SDIT yg favorit. Ada teman saya yg menyekolahkan anaknya yg jarak dari rumah ke sekolah -+6km, padahal jarak 900m dari rumahnya ada SDIT juga (pdhl ini termasuk 5 besar bekasi). Sekolah yg berjarak -+6km tsb adalah no 2 SDIT di bekasi

    Reply

    • a thought by Administrator Enerlife

      @waskito
      Terima kasih kunjungan dan komentarnya.

      Reply

  • a thought by sri rahayu

    Mas penulis tolong bantu saya. Tahun ini sedang bingung mencari sekolah TK untuk anak saya (maklum anak pertama jd blm pengalaman)…
    Saya domisili di Garut. Disini jumlah sekolah favorit sangat terbatas. Hasil pengamatan saya yg benar2 favorit & sesuai selera saya cuma ada 2. Itu pun beda kurikulum.

    1. Sekolah Islam Terpadu (Persis / Pesantren Persatuan Islam).

    2. Global Islamic School (Prima Insani GIS).

    Kedua nya jelas memiliki kurikulum yg berbeda ya mas. Tapi saya tidak tau pasti seberapa jauh perbedaan kedua nya. Hanya dengar2 saja dr orang yang sbenarnya kurang paham jg mungkin. Yg pasti saya ingin anak saya masuk di sekolah yg ber agama baik. Pintar secara global. Tanpa mengurangi porsi bermain/kesenangan mereka.

    Sebab saya survey kondisi kedua sekolah itu spt ini mas penulis :
    1. SIT. Gedung sekolah besar dg jumlah murid yg banyak sekali dan fasilitas bermain seadanya. TK : 7kelas x 30murid = 210murid. TK A+TK B = 210×2 = 420 murid.

    Tempat bermain dipakai bersama2 kurang lebih ada 8-10 buah permainan anak2.

    Lokasi dekat sekali dg rumah saya.

    Untuk masuk SD lanjutan. Hanya dibuka 4 kelas yg sebelumnya ditarik dari 7 kelas TK (ada seleksi ketat & tidak terima lulusan TK lain).

    Jadwal belajar senin-sabtu. Hari libur nasional tidak ikut libur. Punya sistem kalender sendiri. Sudah berdiri sangat lama sekolah ini.

    Menurut info dr teman saya, sekolah ini menuntut anak untuk bisa mencapai target2 tertentu (bacaan doa,bacaan sholat,baca tulis). Istilah teman saya, anak di push untuk menjadi bisa.

    2. Global Islamic School.
    Ini satu2 nya sekolah berbasis global islamic di Garut. Untuk TK sudah berdiri selama 12th tetapi untuk SD baru tahun ini akan dibuka. Jadi kalau anak saya masuk TK ini nanti masuk SD menjadi angkatan ke 3.

    Kurikulum sekolah ini meng-adopsi kurikulum Al Azhar Jakarta. Mereka melakukan training 3 bulan ke Al Azhar Jakarta sebelum proses SD dimulai (angkatan 1).

    Tempat bermain cukup lengkap. Dengan jumlah murid TK 4 kelas x 24murid = 96murid. TK A+TK B = 192murid.
    Fasilitas bermain cukup lengkap bahkan menyerupai fasilitas outbond mini.

    Jarak dengan rumah agak jauh kurang lebih 15-30 menit lamanya.

    Untuk masuk SD lanjutan hanya dibuka 2 kelas yg ditarik dari TK tersebut sebelumnya TK 4 kelas (seleksi tidak terlalu ketat & tidak menerima lulusan dari TK lain).

    Jadwal belajar senin-jumat (sabtu libur). Hari libur normal sesuai kalender nasional.

    Ada rencana program home schooling ke luar negeri untuk SD kelas 5/6 selama 2 minggu.

    Info dari teman saya, sekolah ini tidak memaksakan anak untuk mencapai target tertentu. Untuk kelas TK anak lebih banyak bermain & lebih meng-kedepankan perkembangan psikis dibanding intelektual anak. Istilahnya teman saya bilang anak belajarnya lebih happy. Jadi hafalan surat pendek tidak terlalu banyak, baca tulis baru diperkenalkan pada TK-B. (Maaf kl mungkin saya salah tafsir).

    Mungkin itu gambaran sekolah pilihan saya yang sampai skrg saya masih bingung memilih salah satunya. Padahal masa pendaftaran sudah hampir dibuka kalau tidak cepat memilih bisa habis kuota. Dan alasan lain kenapa saya malah bingung padahal masih dijenjang TK. Karena untuk melanjutkan SD favorit harus dimulai dari TK favorit tersebut. Ga bisa daftar dari sembarang TK. Istilahnya mereka sangat ekslusif menerima murid SD. Dan satu lagi mas penulis, saya menginginkan anak saya mendapatkan ajaran agama yg baik selama sekolah TK+SD nanti, sedangkan SMP saya dan suami berencana memasukan ke sekolah negeri biasa sehingga anak menjadi lebih fokus dg pelajaran inti saja.

    mohon bantuan pemikiran dari mas penulis. Sekali lagi saya sangat berterima kasih atas bantuan nya.

    *mohon balas juga ke email saya cherry.gilz@gmail.com

    Reply

    • a thought by Mochamad Yusuf

      Bingung ya? Coba tanya ke tetangga kanan kiri khususnya yang sudah menyekolahkan… Ini biasanya dapat tips cespleng.

      Reply

  • a thought by An Nisa Surabaya

    Menurut saya JSIT adalah satu2nya rujukan bagi orang tua yg menginginkan hasil yang baik untuk pendidikan putra putrinya.ketika anak2 sy memasuki usia sekolah….sy mulai membanding2kan sklh2 mana sj yg punya kwalitas bagus.tapi sy dan suami sdh terlanjur jatuh hati dg sistem pendidikan di JSIT.soal mahal relatif lah.sekarang mah “ada harga ada rupa”.semahal apa pun kl semua itu utk kebaikan buah hati kita khan nggak jd masalah.Allah pasti akan memberi rezeki utk semua itu…..tapi sayang di sekolah anak2 msh blm dilengkapi dg Ac jadi kasihan kadang mereka mengeluh kepanasan.mdh2an tahun depan akan ada perbaikan.

    Reply

  • a thought by darna

    Assalamu Alaikum wr-wb, Saya ingin berbagi cerita kepada anda, Bahwa dulunya saya ini cuma seorang Honorer di sekolah dasar jawa timur, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 30 jt namun hasilnya nol uang pun tidak kembali bahkan saya sempat putus asah,namun teman saya memberikan no tlp Bpk Drs Sulardi MM yang bekerja di BKN pusat yang di kenalnya di jakarta dan juga mengurusnya, saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, alhamdulillah SK saya akhirnya keluar, sy sadar kalau tdk ada pegangan dr pst langsung meman sulit, itu adalah kisa nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya Hubungi saja Bpk Drs.Sulardi MM Hp:082338712222 Wassalm Darna Sanusi.

    Reply

  • a thought by haji heriyanto

    KISAH SUKSES SAYA DARI HONORER JADI PNS no hp bpk sudwidjo beliau selaku kepala deputi bidang mutasi di BKN pusat yang telah membantu saya jadi PNS 0852-3042-5444 KISAH CERITA SAYA JADI PNS Assalamu Alaikum wr-wb,Mohon maaf mengganggu waktu dan aktifitas ibu/bapak,saya cuma bisa menyampaikan melalui pesan singkat dan semoga bermanfaat, saya seorang honorer baru saja lulus jadi PNS tahun lalu, dan Saya ingin berbagi cerita kepada anda, Bahwa dulunya saya ini cuma seorang Honorer di sekolah dasar, Sudah 7 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 5 kali mengikuti ujian, tidak pernah lolos bahkan saya sempat putus asah,namun teman saya memberikan no telf Bpk drs sudwidjo yang bekerja di BKN pusat Jl. Letjen Sutoyo No. 12 Jakarta Timur 13640 sebagai Kepala deputi bidang mutasi kepegawaian yang di kenalnya di bkn jakarta dan saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, Satu minggu kemudian saya sudah ada panggilan ke jakarta untuk ujian, alhamdulillah berkat bantuan beliau saya pun bisa lulus dan SK saya akhirnya bisa keluar,dan saya sangat berterimah kasih ke pada beliau dan sudah mau membantu saya, itu adalah kisa nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya anda bisa, Hubungi Bpk DRS SUDWIDJO KUSPRIYO MURDONO. M. SI no telf beliau yang selalu aktif 0852-3042-5444 siapa tau beliau masih bisa membantu anda wassalam.

    Reply

  • a thought by Cinta

    Klo dibilang lebay…fasilitas terlalu wow..masih kalah ama sekolah2 katolik deh kayaknya…gurunya bule..kepala sekolahnya bule..didatangkan langsung dari negara asal..liburannya ke luar negeri..fasilitas komplit plit…ada kerjasama ama universitas asing juga setelah lulus SMU..uang sekolah juga bisa jd lebih mahal..tp bg mereka demi pendidikan anak yg terbaik why not?..n i think the same way..mangan sego tok ambek krupuk gpp..pokok anake dpt pendidikan sing tuwop..sekian

    Reply

  • a thought by ardi

    sampean kie resah bos, yg sampean omongkan kelemahan itu sebenernya sampean yg lemah….

    ada anak mengingatkan kita, itu Anugerah bukan malah jadi momok buat kita.

    sapa lagi kalo bukan anak kita yg mengingatkan kita berbuat suatu kesalahan?

    sekian dan maturnuwun.

    Reply

  • a thought by Ayu nabil

    Mungkin maksudnya kelebihan biar jd menarik jd diplesetin jd kekurangan,sy td ny khusuk bget bca nya jd senyum2 sendiri,yah bgus deh kl ilmu agama anak ny lbih tinggi dri orng tua nya toh itu maksud dri menyekolahkan anak ke sana.

    Reply

  • a thought by Mas Dion

    assalamu alaykum w.w
    Pak Yusuf menyesal ya, anaknya sekolah di sdit…. kalau sdit ada kelemahannya… sah sah saja…. bahkan kelemahan itu bisa menjadi sumber kekuatan, karena telah di promosikan oleh pak Yusuf…jadi sdit semakin TOP Markotop…terima kasih , wassalam.

    Reply

    • a thought by Mochamad Yusuf

      @Mas Dion
      Hehehe.

      Reply

  • a thought by andri

    Setuju dengan yang diatas2, good paradoks pak…hehehe.
    Alhamdulillah anak saya sudah hafal juz 30 kelas 4 SDIT, subhanallah. Bapaknya kalo pas jadi imam di rumah cuma ngandelin 2 qul saja surahnya tapi belum dapat protes ni. Hihihi…..salam.

    Reply

  • a thought by Yunianti

    Byk ga setujunya saya. Semua kembali ke pemahamam ortu dlm. mendidik anak. Klo sy sih SD SMP msh lebih cenderung menyekolahkan anak di sekolah islam terpadu.

    Reply

  • a thought by Anugrah Wahyudi

    Membandingkan ayam dan ikan, IOS dan android….yah semua kembali ke selera dan rezeki masing2

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Name and email are required


CommentLuv badge

Subscribe without commenting