Posts Tagged ‘warung laris’

posted by on Kehidupan, Rejeki

2 comments | Views: 55

Kalau sudah begini, kita tak mungkin mengeluh (complain) ke pedagang untuk meminta pertanggungjawaban. Kalaupun kita tetap ‘complain’, kadang hasilnya tetap mengecewakan.

posted by on Karir, Rejeki

2 comments | Views: 70

Aneh. Sekarang saya sadar, begitu banyak kios/toko yang menjual pulsa. Saking banyaknya, antara penjual satu dengan lainnya hanya berselisih 10 meteran. Tapi pagi ini tak ada yang buka sama sekali.

posted by on Rejeki

No comments | Views: 51

Sambil gondok, saya berjalan mendekati mobil yang menunggu untuk menuju ke restoran yang dipilih Bapak. Waktu itu saya merasa jengkel karena tahu restoran yang lebih terkenal adalah yang saya tuju.

posted by on Rejeki

No comments | Views: 218

Dia tak tahu, apakah karena aktivitasnya di masjid itu sehingga bisa seperti ini? Tapi yang jelas, ada perbedaan antara sewaktu di rumah sebelumnya dengan sekarang. Rejekinya sekarang lebih deras.

posted by on Rejeki

No comments | Views: 153

Ironisnya di lokasi lama yang terbakar itu dibangun restoran pangsit lagi, tetap sepi. Memang yang membuka bukan pemilik lama. Tapi jargon lokasi menentukan prestasi, ternyata tak terbukti di sini.

posted by on Rejeki

No comments | Views: 185

Pasti timbul pertanyaan, apakah laku? Bukankah mereka berjualan hal yang sama? Bersaing dengan produk jualan yang sama dan harga yang sama. Bahkan mungkin kulakan dari sumber yang sama.

posted by on Rejeki

No comments | Views: 206

Saya bersyukur warung-warung yang dituju tutup. Kalau tidak, saya tidak menemukan warung itu. Saya tahu, hal itu bukanlah kebetulan. Pasti ada yang mengatur. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan tepat.

posted by on Rejeki

No comments | Views: 178

Dalam mobil ke tempat tujuan, mereka bertanya-tanya kenapa ya mereka mampir ke warung itu? Bukankah masih ada warung lain? Dan kenapa warung langganan tutup? Akhirnya kesimpulannya sama. Rejeki.

posted by on Kehidupan, Rejeki

10 comments | Views: 446

Dua kejadian ini membuat saya berpikir. Saya yakin pemilik kedua warung tadi tetap tak mengubah polanya. Bahkan warung nasi pecel tetap membawa gerobak terbukanya itu. Lauk dan rasanya masih tetap. Tapi kenapa rejekinya berubah?