Energize Your Life!
18 Oct
Sejak awal puasa saya terkena penyakit lumpuh layu (GBS). Sebulan, 18 hari di RS, praktis hanya tiduran di rumah. Alhamdulillah tepat hari raya sudah bisa mengemudikan mobil dan esoknya naik motor.
Oleh: Mochamad Yusuf*
Saya tak menyangka kalau akan menuliskan kisah ini. Tulisan yang berkisah pengalaman saya saat mengalami sakit tersebut. Juga proses penyembuhan, serba-serbinya dan tulisan lain yang melengkapi. Seperti tulisan pak Dahlan Iskan tentang pengalamannya ganti hati (tulisannya dapat dibaca di sini). Kebetulan tulisan pak Dahlan Iskan dimuat beberapa hari sebelum saya sakit. Dan saya menikmati membacanya dan selalu menunggu kelanjutannya.
Tulisan ini bukanlah dimaksud untuk menyombongkan diri, riya’ atau pamer. Namun sekedar sebagai referensi atau rujukan bagi pembaca supaya lebih mengetahui sakit GBS. Karena kalau sudah kena sakit ini, penderita dan keluarga pasti akan bingung, putus asa dan khawatir. Harapan saya bila membaca tulisan ini minimal ada semangat untuk ‘menjalani’ sakit ini. Dan terus optimis bisa sembuh. Maklum sakitnya lumpuh. Satu tingkat di bawah kematian.
Karena saya bukan dokter, tulisan ini bisa saja subyektif. Maklum hanya mendasarkan pengetahuan dan pengalaman waktu saya sakit.
Awalnya saya merasa nggak enak badan (apa ya istilah bahasa Indonesianya ?) di hari selasa, 11 September 2007. Terasa capek gitu. Memang sebelumnya saya banyak kerja. Maklum minggu sebelumnya week-end panjang, yakni sabtu libur. Karena kebijakan kantor libur sabtu hanya 2 minggu sekali.
Di hari sabtu, saya harus datang ke rapat orang tua di sekolahnya Zidan. Lalu bantu tukang dan beli material untuk memperbaiki kamar mandi yang bocor. Dan sabtu itu saya mulai mengecat pagar depan. Saya melihat sudah waktunya pagar untuk dicat kembali. Dan saatnya berganti warna. Saya samakan warnanya dengan kusen dan teralis di dalam. Di sela-sela itu saya harus bersih-bersih taman dan rumah. Saya ingin menyambut Ramadhan yang jatuh kamis depan dengan bersih. Karena kalau sudah Ramadhan, tentu saja saya tidak bisa bersih-bersih.
Kesibukan ini berlanjut sampai hari minggu. Malah lebih parah karena sampai jam 11 malam. Paginya saya ke rumah Ibu, mengurus masalah takjil bulan Ramadhan yang saya sumbang. Pulang ke rumah siang, Zidan nangis nagih dibelikan VCD Ultraman. Sebelumnya mamanya janji membelikan kalau mau ke dokter, dan dia mau. Belinya di Gramedia di Royal Plaza. Tentu saja saya jalan-jalan di sana. Sudah capek tambah bikin capek. Tiba sudah sore. Dan masih dilanjutkan dengan pekerjaan berat melanjutkan ngecat pagar. Baru selesai setelah adzan maghrib lama berkumandang.
Mandi sebentar dan kegiatan ternyata masih berlanjut, yakni arisan. Sebenarnya saya sudah malas untuk datang. Capek sekali. Tapi karena arisannya ada di tetangga persis sebelah rumah, dan diselenggarakan di depan rumahnya, yang berarti juga di depan rumah saya, saya nggak mungkin nggak datang. Saya sudah harus memindah si Karin, karena memang saya parkir depan rumah.
Di arisan itu saya terkantuk-kantuk, ingin rasanya arisan cepat selesai, sehingga saya bisa tidur. Tapi ternyata meski arisan selesai, saya belum dapat merasakan hangatnya kasur saya. Karena sebagian bapak-bapak rapat membicarakan pembangunan poskamling di dekat si Karin. Tentu saja saya sungkan, kalau saya pindahkan lagi si Karin ke rumah. Akhirnya saya baru bisa naik ke tempat tidur sekitar jam 11.
Namun tidur saya tidak bisa lama, karena saya harus bangun pagi sekali. Karena harus mempersiapkan diri untuk mengajar mulai jam 7. Kembali di kantor sekitar jam makan siang. Capek rasanya belum hilang. Karenanya masih terasa ngantuk. Jadinya saya sempat tidur-tiduran di tempat duduk saya.
Besok pagi ketika bangun sudah berniat ngantor meski masih kurang fit. Tapi akhirnya saya putuskan untuk tidak masuk kerja. Saya telpon Bos untuk minta ijin.
Saya sebenarnya semingguan sudah sakit flu. Agak meriang, pusing dan lelah. Saya sudah coba obati dengan minum obat Inza. Cuma saya tidak minum teratur, 3 x sehari. Karena selain sering lupa minum, saya takut ngantuk. Berbahaya nanti ketika mengemudi, juga nggak enak kalau ngantuk di kantor. Padahal sebelumnya saya sudah sakit batuk. Bahkan sebenarnya sakit batuk ini sudah sangat mengganggu. Kalau sudah batuk, bisa lama redanya.
Sakit batuk ini sudah 2 mingguan saya rasakan. Tapi saya remehkan. Oleh klien saya sempat diberi obat cina. Dan beberapa kali sempat saya minum. Tidak saya lanjutkan, karena obatnya hilang ketinggalan waktu makan di warung sepulang kantor.
Hari rabu kondisi saya mulai sehat. Tapi saya masih belum berani masuk kerja. Ya, wajar pikir saya. Karena obatnya flu adalah istirahat banyak dan makan banyak. Namun saya sudah berencana masuk besoknya yakni kamis. Bahkan saya mau menelpon teman kantor untuk menanyakan jam kerja di bulan Ramadhan. Besok kamis kita sudah mulai puasa.
Rabu sore saya mulai pegal, karena itu saya putuskan untuk tidak menjemput istri di jalan depan perumahan. Tapi masih oke, karena masih bisa jalan dan lainnya. Malam itu saya masih bangun untuk sahur. Tapi sudah mulai terasa lebih pegal.
Paginya ketika saya bangun, saya rasakan badan sudah mulai berat untuk digerakkan. Masih bisa berjalan sih, tapi tertatih-tatih. Karena itu saya putuskan untuk ke dokter. Saya rasa ini sudah seharusnya. Saya memang malas ke dokter kalau memang tidak parah. Rencananya kita akan pergi ke RS terdekat, yakni RS Siti Khodijah di Sepanjang. Ini memang dekat dengan rumah.
Karena istri tidak bisa naik motor atau mobil, kita berangkat naik taksi. Dengan dipapah saya berjalan masuk taksi. Saya ingat, saya kesulitan untuk menekuk kaki untuk masuk ke taksi. Di taksi sempat ada ide untuk pakai kursi roda ketika di RS. Tapi saya tolak, karena saya merasa mampu jalan.
Setelah menunggu antrian, pak dokter yang memeriksa, Dr Subkhan, mulai menanyakan keluhan saya. Saya bilang tangan saya kesemutan, badan terasa pegal dan berat untuk digerakkan. Persis tanda-tanda kena stroke! Saya disuruh ke tempat tidur untuk diperiksa. Setelah susah payah naik ranjang, jadi terasa enak bisa istirahat di ranjang.
Habis diperiksa, dokter menanyakan apakah saya puasa ? Tentu saja, karena ini sudah masuk bulan Ramadhan. Dia meminta untuk tes darah. Tepat! Dokter sudah curiga saya kena gejala stroke, karena itu perlu diperiksa gula darah saya (diabetes). Dan ini harus puasa.
Setelah darah saya diambil, saya sebenarnya diperbolehkan untuk tetap tiduran di situ. Ya, petugas laboratorium memang yang datang, bukan saya datang ke laboratorium. Tapi saya tolak. Dan saya lebih menunggu di luar. Ketika mulai lama menunggu, saya pindah duduk menunggu di depan laboratorium.
Akhirnya setelah beberapa kali menanyakan dan lama menunggu, akhirnya hasil laboratorium keluar. Diberikan ke istri saya (jelas, wong saya sudah kesulitan bergerak). Meski untuk dokter, amplopnya terbuka, sehingga bisa dibuka. Saya dan istri membacanya.
Ternyata dokter meminta test untuk gula darah puasa dan asam urat. Sebelumnya sudah diperiksa tekanan darahnya. Hasilnya normal. Saya lupa berapa waktu itu. Tapi selama saya sakit tekanan darah saya antara 110-130. Hasil test gula darah dan asam urat normal. Jadi dugaan stroke punah sudah. Jadi kesimpulan dokter adalah… KECAPEKAN saja. Saya diberi vitamin dan obat batuk, karena memang masih batuk waktu itu. Dan memastikan besok sudah sehat dan bekerja kembali. Lho ? Ya, dengan yakin dia memberi surat dokter hanya sehari, yakni hari itu.
Pulang ke rumah (setelah lebih susah payah naik taksi) langsung minum obat. Dan seperti asumsi dokter, saya juga yakin cuma masalah kecapekan saja. Setelah tidur, bayangan saya pas bangun sudah sembuh.
Tapi apa lacur ? Pas bangun sekitar jam 10 malam, badan lebih lemah. Lebih lumpuh! Tetapi seingat saya, saya tidak panik waktu itu. Karena saya masih yakin akan kecapekan saja. Saya coba gerakkan anggota badan saya. Saya masih bisa mendirikan lengan saya seperti menara. Tapi sudah kesulitan untuk mengangkatnya.
Saya telpon teman saya dokter yang ambil spesialis. Saya jelaskan keadaan dan kronologinya. Dan ajaib, dia juga yakin bahwa saya cuma kecapekan saja. Katanya saya terlalu capek, kekurangan zat-zat elektrolit dan lit-lit lain, juga kalium. Karena itu disarankan untuk membeli Pocari Sweat dan obat Askar-K.
Waktu sudah cukup malam, jadi istri saya agak ragu dimana mendapatkannya. Akhirnya setelah diantar pembantu (ya, dia tidak bisa naik motor atau mobil) dia mendapatkannya. Saya minum dengan semangat. Bahkan beberapa kaleng Pocari saya minum sekaligus. Dan mulai saya tidur dan berharap bengunnya segar kembali.
Tapi ? Waktu bangun sekitar jam 3, ketika orang mulai sahur kedua, saya malah lumpuh total. Tidak ada yang bisa digerakkan. Saya coba lengan saya untuk membuat menara seperti sebelumnya. Nihil. Boro-boro mengangkat lengan, gerakan kecil jempol saja tidak ada. Saya telpon lagi teman tadi. Ada nada khawatir di sana. Saya diminta dibawa ke rumah sakit. Mulailah atmosfer khawatir melingkupi rumah. Bahkan panik. Ibu ditelpon istri dan langsung bergerak ke rumah.
Tiba di rumah, Ibu yang naik taksi dan adik naik motor, langsung nangis lihat kondisi saya. Jelas sedih, lihat kondisi saya yang lumpuh. Dengan taksi yang sama, saya berangkat ke RS. Sebelumnya saya harus digotong dengan susah payah oleh 5 orang untuk ke taksi. Dan tentu saja lebih susah payah ketika masuk ke taksi. Setelah siap, di mana istri dan ibu saya ikut juga, berangkatlah taksi ke rumah sakit. Dan mulailah hari-hari saya di rumah sakit.(bersambung)
~~~
*Mochamad Yusuf adalah seorang konsultan, pengajar dan pembicara publik. Tinggal di pinggiran Surabaya. Dapat ditemui di http://m.yusuf.web.id.
~~~
Cerita ini sudah dimuat dalam personal website saya:
http://www.myusuf.or.id/v20/writing/index.php?act=detail&p_id=423
Leave a reply