Yang jadi masalah adalah saya tak tahu harus bagaimana mendekati wanita, khususnya kalau itu adalah wanita idaman saya. Saya tiba-tiba bisu mendadak. Dan ketika wanita itu pergi, penyesalan datang.

1001 Jalan Mencari Cinta
KISAH AGUS
Belajar Cinta dari Film Drama(1)

Tulisan ini didedikasikan untuk teman-teman IT yang selalu mencari solusi di internet

Oleh: Mochamad Yusuf

Agus Sasongko memaki-maki dalam hati, “Dasar orang Indonesia! Senangnya gratisan.” Dia melihat ke belakang, tampak antrian yang panjang. Dan di depannya juga antrian panjang. Rapat. Sampai spion dengan spion nempel.

Agus menyesal kenapa tidak lebih pagi tadi berangkatnya. Dia lihat jam tangannya masih menunjukkan pukul 6.15. “Masih subuh malah,” gumannya tersenyum. Dia mendongak ke atas. Matahari masih malu menampakkan dirinya.

Keengganan matahari dimanfaatkan embun turun menyapa manusia yang berjubel-jubel. Karenanya dua tower yang jadi landmark itu tampak samar-samar. Dia memicingkan mata ingin melihat kabel oranye yang menyangga jembatan. Tak kelihatan. Benar-benar kabut yang tebal.

Minggu pagi ini Agus memang berniat melihat jembatan yang konon terpanjang di Asia Tenggara. Jembatan yang menghubungkan antara pulau Jawa dan Madura. Sebuah sejarah telah tertoreh. Madura yang cukup padat penduduknya dengan 4 kabupaten akhirnya tersambung.

Dia matikan mesin Honda Kharismanya, “Kalau begini bensin habis sia-sia.” Dia mengayuh Hondanya maju dengan kakinya. Dia menghela napas, kapan sampainya. Padahal tol gate-nya saja masih jauh.

Dia toleh-toleh melihat sekitar, “Lebih baik saya nikmati saja kemacetan ini. Daripada memikirkan sampai kapan masuk jembatan Suramadu.” Tiba-tiba Kharismanya tersenggol ban GL Max. Dia toleh ke kanan, melihat siapa biangnya.

Tampak pasangan muda. Di depan yang mengemudi seorang laki. Memakai topi yang ditutupi dengan helm. Dia agak menoleh ke belakang bercakap dengan penumpang di belakangnya. Dia seorang cewek. Tangannya kirinya memegang helm. Tampak rambut hitamnya yang panjang.

Agus mengebel sambil tetap mengawasi mereka. Mereka tampak kaget. Si lakinya membelokkan bannya ke kanan, sehingga tak menyenggol lagi. Tangan si laki mengulur ke depan minta maaf. Agus membalas dengan uluran juga, “Tak apa.”

Meski begitu Agus tak mengacuhkan si laki. Dia terpesona dengan pandangan yang persis di sebelah kanannya. Cewek itu. Cantik sekali dengan rambut panjangnya. Meski terbungkus kaos putih dan diselimuti sweater hijau, badannya masih terlihat jelas. Montok.

Seperti tidak percaya melihatnya. Si cewek begitu cantik, tapi kenapa si laki tampak ‘hancur total’ begitu. “Kalau dibandingkan dengan si laki tersebut, dia masih mendingan,” batinnya. “Kalau nilai saya 7, dia paling 5. Itu pun jurinya kasihan menilainya,” sungutnya. Keduanya kembali berpelukan. Yang si cewek makin erat memeluknya. Kepala mereka hampir beradu. Dagu si cewek ditaruh di bahu si cowok.

“Kurang ajar. Pacaran di muka umum,” makinya. Namun sekarang dia sadar di sekelilingnya banyak pasangan muda yang berpelukan erat. Pacaran di muka umum, istilahnya Agus. Dia baru ingat, hari ini adalah hari Minggu.

Agus memaki-maki sekarang lebih kencang dalam hati. Kalau tadi mengutuk orang Surabaya yang maunya gratisan, sekarang mengutuk semua laki yang nasibnya mujur. Modal wajah pas-pasan tapi mendapat keuntungan cewek yang cantik.

“Lebih baik saya pulang saja,” Agus kesal. Tapi tak mungkin dia balik kanan. Dia harus mengikuti arus maju ke jembatan.

Dia menerawang memikirkan nasibnya. Wajahnya tidak jelek, meski tak tampan. Biasa. Perawakannya biasa saja. Tak kekar atau lainnya. Tinggi sekitar 163 cm. Samalah dengan rata-rata orang Indonesia. Punya pekerjaan. Meski belum setingkat manager, tapi cukuplah gajinya. Dia bekerja sebagai seorang IT di sebuah perusahaan media yang cukup kondang di Surabaya.

Dia mencoba menggali memori. Ternyata si laki yang beruntung banyak ditemukan. Bahkan di kantornya. Dia ingat resepsionis kantor yang cantik yang ditaksirnya. Dia akhirnya jadian dengan temannya yang menurutnya ‘kalah’ dengannya.

Kenapa bisa begini? Apa yang salah dengan dia? Apa Tuhan tidak adil? “Saya cowok yang jujur, alim dan bertanggung jawab. Saya juga punya kemauan kuat untuk menikah,” kata Agus. “Tapi kenapa tidak ada cewek yang mau dengan saya?”

~~~
Dia geber Kharismanya. Kalau tidak, tak akan bisa mencapai kantornya. Kantornya ada di dataran yang cukup tinggi. Kantornya sering mengatakan sebagai bukit. Berdiri di atas bukit. Jalan ke sana naik cukup curam.

Setelah ada gedung bertingkat 3 dengan menara yang tinggi, dia belok kanan. Dia terus menggeber motornya melewati terowongan. Ya, terowongan karena di atasnya ada gedung. Dia terus melaju mengarah kerindangan Mangga. Di pelataran sudah banyak parkir mobil dan motor. Maklum kantornya buka 24 jam, 365 hari setahun. Diparkirnya Kharisma di tempatnya.

Sekarang dia melangkah ke gedung megah bertingkat 3. Dari luar memang tak tampak. Tapi kalau sudah di dalam terlihat megahnya gedung itu.

Dia buka gerbang kaca yang ber-rayban. Di ujung kanan tampak piano yang besar yang terselimut. Dia membelok ke kiri, dan mulai mendaki tangga. Kantornya ada di lantai 3.

Setiba di meja, dinyalakan komputernya. Dan mulailah ritual pagi ini. Mengambil gelas, membuat kopi. Terus menyalakan radio. Setelah itu membuka Mozilla mengecek email sambil membuka Putty memantau server Linuxnya.

Pagi itu dia sibuk sampai lupa kejadian hari sebelumnya. Bahwa dia memaki dan mengutuk semua laki yang beruntung. Bahkan makiannya semakin nyaring setelah tiba di atas jembatan. Karena malah banyak pasangan yang pacaran di jembatan. Gila. Dilarang berhenti, malah pacaran di sini. Di seberang, Bangkalan, juga banyak yang pacaran.

Dia sudah lupa dengan itu semua. Dia sekarang asyik hanyut dengan dunianya. Pemrograman dan server Linux.

~~~
Sore itu dia mengetest terakhir website rumah sakit yang dibangunnya. “Siip. Semua oke. Tidak ada yang error. Semuanya berfungsi dengan normal. Website siap untuk dilaunching,” katanya dengan senang. “Sekarang saya bisa bersantai.”

Tiba-tiba dia ingat kejadian kemarinnya. “Pasti ada yang salah dengan diri saya. Kalau modal hancur-hancuran begitu, masih bisa menggaet cewek, kenapa aku malah nggak dapat? Harus ada solusi!” katanya bersemangat. Aku akan coba cari jurus jitunya di internet. Bukankah selama ini kalau ada masalah pemrograman, dia mencari solusinya di internet.

Tapi sebelum memulai, dia merenung sebenarnya persoalan apa yang menghambatnya. Modal fisik, okelah. Ya, meski tak tampan sekali. Rata-ratalah. Tongkrongan? Meski belum punya mobil, tapi sepeda motornya nggak jelek-jelek amat. Pekerjaan ada. Dia simpulkan tak ada masalah dengan modal.

Modal cukup. Buktinya dia cukup pede bercakap-cakap dengan wanita. Sekalipun baru dikenal.

“Hmm.. yang jadi masalah adalah saya tak tahu harus bagaimana mendekati wanita. Khususnya kalau itu adalah wanita idaman. Yakni wanita yang semampai, putih dengan rambut hitam yang panjang. Saya tiba-tiba bisu mendadak. Dan ketika wanita itu pergi, penyesalan demi penyesalan yang saya rasakan,” dia mulai mencoret-coret permasalahan.

“Selain itu saya tahu ide apa lagi yang harus dilakukan untuk lebih dekat lagi. Misal setelah kenal, hal apa yang harus saya lakukan untuk lebih dekat lagi. No idea. Stupid. Nggak kretif,” makinya. “Dasar kuper! Nggak ada yang ngajari sih,” dia terus memaki-maki dirinya sendiri.

“Oke kalau begitu. Saya tahu memulainya,” dia tersenyum licik seperti serigala menemukan muslihat menangkap kelinci. (TSA, 16/6/2009 menjelang tengah malam)

~~~
Bersambung…

~~~
Kisah ini diangkat dari kejadian sebenarnya. Kisah ini bagian dari serial ’1001 Jalan Mencari Cinta’. 100% tested. Artikel menarik lainnya bisa dibaca di: www.enerlife.web.id

~~~
*Mochamad Yusuf adalah konsultan senior TI, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus developer website & software SAM Design. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di profil Facebooknya.


Share