Energize Your Life!
15 Jun
Lha kalau kamu mau mencari suami yang kekar, kamu bisa mencarinya di sasana tinju. Kalau kamu ingin mencari suami yang ganteng dan keren, mungkin bisa mencarinya di mall-mall. Atau di salon. Hahaha.
KISAH ANITA
Mengkaji Ayat Menggali Cinta(2)
Oleh: Mochamad Yusuf
Tulisan ini didekasikan untuk ibu dan bapak. Keduanya mengalami pernikahan pertama yang kandas dan singkat. Penuh dengan air mata dan kemarahan. Namun tak kapok untuk berumah tangga lagi untuk mencapai bahagia bersama saya dan 2 adik saya.
~~~
Anita memulai aktivitasnya. Mengajar, berdiskusi dengan teman guru, mempersiapkan materi, mempersiapkan sekelompok siswa menghadapi olimpiade sains. Sibuk. Cukup sibuk melupakan kekesalannya pagi itu.
Mengajar memang dunianya. Sejak muda dia memang suka mengajar. Waktu SMA dia sudah mengajar adik kelasnya dalam kegiatan ekstra. Setelah mahasiswa hal itu tetap dilakukan. Malah sekarang dia mengajar privat. Di rumah sendiri dia mengajar Kania, adiknya, dan teman-temannya. Gratis. Di luar itu sudah profesional, dibayar.
Sebenarnya kuliahnya bukan di IKIP. Tapi karena panggilan jiwanya, selulus kuliah dia malah melamar jadi pengajar di sekolah ini. Ya, sekolah ini adalah perusahaan pertama dan terakhir bekerja. Sekolahnya dulu bukanlah sekondang sekarang.
Dia turut menjadikan sekolah ini favorit. Favorit karena banyak meraih prestasi, karena hasil gemblengannya. Ketekunannya membuahkan dia menjadi wakil kepala sekolah. Meski masih banyak guru senior lainnya, karena pertimbangan di atas, dia meraih jabatan itu.
Di luar itu, dia membeli lisensi franchise bimbingan belajar. Awalnya dia hanya memiliki 1 lokasi. Sekarang dia sudah memiliki 3. Semuanya ramai muridnya. Bimbingan belajar ini menjadikan pundi-pundi uangnya semakin menggelembung.
“Ah, betapa bahagianya aku,” batinnya suatu ketika. Ya, dia patut bersyukur. Bekerja sesuai dengan kesenangannya. Meski dia tak mengejar karir, toh dia jadi wakil kepala sekolah. Tak lama lagi malah jadi kepala sekolah. Juga punya perusahaan yang malah menghasilkan kekayaan.
“Apalagi yang harus aku kejar. Aku sudah bahagia sekarang. Lalu buat apa menikah? Alih-alih berbahagia, malah menderita,” katanya.
Sore itu setelah semuanya selesai, laptop yang sudah dipakai untuk menyiapkan bahan, dia koneksikan dengan internet. Karena lingkungan sekolah itu sudah ada wi-fi, jadi nggak kerepotan untuk ngakses internet.
Dia buka mozilla. Dia ketikkan www.facebook.com di addressnya. Karena sudah banyak yang pulang, internetnya cukup kencang. Sudah tidak banyak yang pakai. Di beranda Facebook terlihat beberapa status temannya.
Kartika Lestari, “Siapa kamu adalah siapa temanmu.” Begitu statusnya.
Kartika atau Anita memanggilnya dengan Tika. Tika adalah teman kuliahnya. Dia tersenyum melihat statusnya yang tidak jelas itu. Dia menuliskan komentar, “Lha, kalau teman-temannya hanya teman Facebook?..”
Namun sebelum menekan tombol submit, tiba-tiba box bawah sebelah kanan keluar. “Nit, apa kabar?” Ternyata Tika sudah menyapanya dalam chating. “Ah kamu panjang umur, mau aku komentari statusmu, kamu sudah menyapaku,” ketik Anita.
“Kenapa?”
“Apa maksudmu ‘Siapa kamu adalah siapa temanmu’?”
“Hahaha.. Penasaran ya”
“Asem..”
Tika memang sobat kentalnya. Sejak pertama mengenalnya waktu penataran P4, dia sudah merasa dia adalah sobat terbaiknya. Aneh sebenarnya karena dia bukan satu jurusan yang sama. Hanya sama fakultas.
“Ya, kamu bisa dilihat dari teman-teman yang kamu miliki,” balas Anita.
“Lha kalau punyanya hanya teman Facebook?” tanyanya lagi.
Tak ada balasan. Dia tunggu. Tak keluar juga box-nya. Dia mulai tak sabar. Anita memang bikin penasaran saja. Apa maksudnya statusnya itu.
Ring-ring. Telpon di mejanya berbunyi. Aneh. “Siapa yang telpon, sekolah sudah tutup,” batinnya. Ragu-ragu dia angkat, “Nit, apa kabar?” “Ya, ampun kamu Tika.” “Maaf, tadi ada bos lewat. Saya harus ngobrol sebentar. Sekarang dia pulang, jadi aku sudah bebas. Ngenet apalagi telpon kamu ini. Hahaha,” katanya nyerocos.
“Sudah lama kita nggak berkomunikasi langsung ya?” katanya setelah tawanya hilang. “Ya, sejak aku pindah ke luar kota mengikuti suamiku ya..” Tika menjawab sendiri pertanyaannya.
Selepas kuliah mereka masih berkomunikasi, karena masih 1 kota. Bahkan setelah menikah, mereka tetap berkomunikasi. Namun 5 tahun lalu, dia pindah ke luar kota mengikuti dinas suaminya. Karenanya dia mengundurkan diri sebagai karyawan sebuah bank swasta. Murni sebagai ibu rumah tangga.
Lama tidak berhubungan. Paling sms waktu lebaran dan ulang tahun. Dan sejak ada Facebook, 2 bulanan ini dia bisa berhubungan kembali. Namun komunikasinya tak pernah langsung. Paling send message atau post wall di Facebook. Telponnya Anita ini memecahkan kebekuan komunikasi yang terjadis sejak 5 tahun itu.
“Kamu sudah menikah?” Tika bertanya. Tak ada jawaban di seberang. “Hahaha.. kamu masih trauma?” Tika sebagai sobat kentalnya sudah mengetahui hal ini.
“Menikah hanya bikin penyesalan.”
“Ya, penyesalan. Kenapa tak dulu-dulu. Hahaha.”
“Bagaimana kalau suaminya hanya bikin tersiksa?”
“Lha itu yang saya maksudkan dengan statusku. Tentu saja kita harus mencari suami yang benar. Memang jodoh di tangan Tuhan. Tapi kita diwajibkan untuk mencarinya. Lha kalau kamu mencari suami yang sholeh, kamu harus cari di tempat yang tepat.”
Dia berhenti menarik napas.
“Ada nyanyian yang dikumandangkan selama menunggu mulainya shalat jamaah. Tombo Ati. Tahu lagu itu?”
“Yang mana?”
“Kamu pasti tahu. Ingat waktu kita KKN dulu.”
“Oh yang ada 5 hal yang bisa dilakukan bila ingin meraih kebahagiaan?”
“Betul. Salah satunya adalah ‘Bergaulah dengan orang alim.’ Apa maksudnya? Ya supaya kita jadi alim. Lingkungan yang akan membikin kita menjadi seperti itu. Kalau kita bergaul dengan orang alim, kita akan menjadi alim. Karena kita dipengaruhi dan dibimbing oleh mereka. Kalau teman-temanmu pengusaha, kamu pasti ingin jadi pengusaha. Kalau teman-temanmu pemabuk dan pecandu, kamu pasti ikutan juga.”
“Demikian dengan suami. Lha kalau kamu mau mencari suami yang kekar, kamu bisa mencarinya di sasana tinju. Kalau kamu ingin mencari suami yang ganteng dan keren, mungkin bisa mencarinya di mall-mall. Atau di salon. Hahaha. Jadi kalau kamu mencari suami yang sholeh, kamu harus mencari di masjid.”
“Maksudmu? Memangnya di masjid ada biro jodohnya?” balas Anita sengit.
“Hahaha.. tentu saja bukan seperti itu. Tapi kita bisa masuk dalam lingkungan masjid. Ikut pengajiannya. Ikut organisasinya. Banyak kan? Ada remaja masjid, organisasi sosial dan lainnya. Kamu tahu aku kan dulunya gimana?”
Ya, Anita dan Tika bisa dikatakan cewek tomboy. Waktu kuliah dia malah asyik beraktivitas pecinta alam. Waktu senggang pasti mereka habiskan dengan mengikuti kegiatan pendakian gunung atau lainnya.
“Tapi aku nggak mau cari suami di situ. Teman-teman pecinta alam adalah teman-temanku mencari pengalaman. Bukan berarti teman-teman pecinta alam nggak cocok jadi suami. Namun aku mencari suami yang alim.”
Dia teringat kalau malam minggu nggak ada kegiatan, teman-teman kumpul di markas. Ngobrol-ngobrol diselingi merokok bareng. Namun kadang-kadang diselingi dengan minum minuman keras. Ya, dia ingat kalau jam-jam shalat mereka tetap asyik saja beraktivitas. Tidak ada yang mengingatkan untuk shalat.
Tika melanjutkan, “Ya, aku dengan teman-teman pecinta alam sampai sekarang tetap baik. Tapi aku mencari suami yang minimal tahu apa kewajibannya dia sebagai manusia. Membimbingku lebih tahu tentang agamaku. Mengingatkan dan selalu mengajak ke kebenaran.”
Anita diam. Mendengarkan dengan seksama.
“Tentu saja selama menikah, selalu saja ada pertengkaran. Wajar. Wong lidah kita yang ikut dengan kita sejak lahir, masih kegigit. Apalagi suami! Dia juga seorang manusia yang memiliki pikiran dan keinginan sendiri-sendiri. Hahaha.” kata Tika.
Anita tersenyum, Tika memang humoris. Tidak seperti dia, yang suka serius. Karenanya dia suka berteman dengannya.
“Pertengkaran dalam rumah tangga adalah wajar. Yang penting adalah mencari solusinya. Solusi bisa dibentuk dengan komunikasi yang intens dan kepercayaan. Kalau kamu takut menikah jadi nggak bahagia, terus solusinya nggak menikah, ya salah. Kalau begini, manusia tak akan maju. Kalau ingin terbang, tapi takut nanti jatuh, tentu pesawat tak akan tercipta,” kata Tika.
“Sialan,” batin Anita. “Kamu kok sekarang bijak dan pintar begitu. Dulu kamu o’on begitu?”
“Hahaha. Ini semua bukan kata-kataku. Ini kata-kata suamiku. Dia pintar. Dan aku ketularan pintar. Ehm.. ehm..”
“Asem”
“Kamu tahu dulu aku agak alergi kegiatan-kegiatan pengajian dan lainnya. Mending berpetualang. Ya, kalau masih muda, oke. Tapi usia kita tak bisa menipu. Kita semakin tua dan lemah. Tak bisa berpetualang terus. Karena itu ketika ada tetangga mengajak ikut pengajian, aku ho-oh saja. Dan ternyata banyak gunanya.”
“Apa itu?”
“Hahaha.. kamu sejak tadi kok penasaran melulu.”
“Asem.”
“Ya, banyak nona manis.. Tapi yang terbesar adalah mas Huda. Suamiku. Di pengajian itu saya kenal dia, dan akhirnya jadian dan menikah sekarang ini.”
“Oh kamu kenal mas Huda itu di pengajian?”
“Lho, apa aku nggak pernah menceritakan hal ini? Ah, pasti sudah. Kamu sobat kentalku. Cuma trauma dan ketakutan menikahmu membuat memori ini tak dimasukkan dalam otakmu. Menurut penelitian..”
“Sudah-sudah. Hentikan kata-kata yang bukan dari kamu. Kamu hanya menyitir dari ucapan suamimu.”
“Hahaha.”
Tak terasa perbincangan sudah 30 menit.
“Tentu saja, traumamu ini tak bisa disembuhkan dengan percakapan di telepon ini. Minimal kita berkomunikasi, bertukar pendapat dan curhat. Hehehe.”
“Ya, aku senang bisa melakukan hal ini lagi”
Senyap.
“Oh ya, teman mas Huda mau punya hajatan meng-aqiqah anaknya. Gimana kalau kamu ikutan aku. Kita reuni lagi ya? Hahaha..” kata Tika. “Reuni kok 2 orang,” sergah Anita. “Ya, lepas kangen sambil ya siapa tahu ada teman-teman mas Huda bisa dikenalkan sama kamu.”
Kali ini, Anita tidak marah dijodohkan. Dia percaya Tika. Dia melihat Tika ya seperti dia. Tika mengenal Anita mungkin melebihi orang tuanya mengenalnya. Kalau dia bahagia dalam perkawiannya, kenapa aku tidak. Kalau misalkan ada masalah, toh ada Tika yang bisa dimintai pendapat.
“Alamatnya nanti saya sms ke kamu,” kata Tika.
“Oke, sampai nanti di rumahmu ya,” kata Anita.
Telepon ditutup.
Dia sekarang mulai menatap masa depannya yang lain. Dia minimal tahu solusi yang bisa dilakukan. Dia memang anti lari dari masalah. Dia selalu menekankan pada siswa-siswanya tentang ini. Aneh, kalau trauma perkawinan, nggak ada solusinya.
Sekarang bersama Xenia dia pulang dengan ceria. Tak ngebut lagi.(TSA, 14/6/2009 subuh)
~~~
Kisah ini diangkat dari kejadian sebenarnya. Kisah ini bagian dari serial ’1001 Jalan Mencari Cinta’. Kisah lainnya dapat dibaca di: www.enerlife.web.id/v10/category/my_enerlife/jalan-mencari-cinta/. Artikel-artikel motivasi menarik lainnya bisa dibaca di: www.enerlife.web.id
~~~
*Mochamad Yusuf adalah konsultan senior TI, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus developer website & software SAM Design. Dia aktif menulis dan beberapa bukunya sudah terbit. Beliau tinggal di pinggiran Surabaya. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di profil Facebooknya.
Leave a reply