Dia menghitung dia hanya pacaran 4 kali. Hanya 1 yang dia merasa pacaran benar. Sedang 3, yang terakhir, entahlah… Dia merasa ada rasa keputus-asaan. Karena semua pacarnya adalah pria yang beristri.

1001 Jalan Mencari Cinta
KISAH SARI
Sabar Mencari Cinta Sejati(1)

Oleh: Mochamad Yusuf

Tiga hari ini gusi geraham Purnama Sari Cahya bengkak. Akibatnya dia tak bisa makan nikmat seperti biasanya. Paling dia makan atau tepatnya minum Energen. Asal memenuhi syarat untuk memasukkan sesuatu ke perut.

Ingin rasanya dia memeriksakan ke dokter gigi secepatnya. Namun pekerjaannya sebagai manager layanan pelanggan di sebuah perusahaan telekomunikasi tak bisa ditinggalkan. Apalagi ada 2 stafnya yang tak masuk mendadak. Akibatnya dia sementara menggantikannya. Bertugas sebagai operator. Sesuatu yang sudah lama tak dijalaninya.

Agak kagok juga awalnya. Namun karenanya tingginya keluhan yang masuk, dia tak punya jalan keluar yang cepat dan efektif selain dia dan supervisornya mengganti sebagai operator.

Akhirnya hari ini dia merasa mulai beres pekerjaannya. Besok dia sudah memastikannya stafnya datang. Selain itu pekerjaan laporan dan presentasinya sudah kelar. Setelah memastikan shift malam dan pagi beres, dia membereskan barangnya untuk segera pulang. Dia ingin ke dokter gigi.

Dia tak keluar lewat pintu depan, tapi lewat aula yang digunakan juga sebagai jumatan. Tembus ke utara menuju parkiran. Mobil berderet rapi. Dia memang selalu salut dengan satpam yang care mengatur kendaraan yang parkir.

Dimasukkan kunci ke pintu Peugeot 206 tahun 2005. Dan tak lama kemudian melesat keluar. Berzigzag mengarah ke jalan Panglima Sudirman. Sempat tertahan luberan pasar sayur. “Kapan pasar ini dipindah ya?” batinnya kesal setiap pulang. Bikin capek.

Untunglah mobil kecil ini lincah, kencang tapi pengendaliannya enak. “Pantas, lha mobil yang memenangkan 3 kali juara WRC,” pujinya. Meski begitu mobil ini cukup irit.

Sekarang dia terus melaju ke selatan. Setelah naik jembatan tol Wonokromo, sekarang mengarung jalan yang super macet di Surabaya. Sesampai di bundaran yang dibelah dengan jembatan tol, dia berbelok ke kanan. Terus sampai kemudian belok kiri di pertigaan yang ramai.

Setelah melewati perumahan yang cukup besar, dia sekarang melewati jalan yang diapit sawah. Dia nyalakan lampu sein ke kanan. Dia buka jendela dan sapa para satpam.

Maklum meski bukan perumahan mewah, perumahan ini termasuk one gate system. Satu-satunya akses ya lewat gerbang ini. Karena itu para satpam mengawasi dengan seksama siapa yang masuk. Dengan melambai dan menyapa, dia bebas dari pemeriksaan.

Sekarang dia masuk ke jalan kembar. Dia menimbang pulang dulu atau sekalian mampir ke dokter gigi. Dia putuskan langsung ke dokter gigi. Supaya dia bisa dapat antrian pertama.

Dia langsung membelokkan kemudinya ke kiri sebelum menyentuh jalan kembar. Terus di pertigaan dia belok kanan, namun dia langsung menepi di rumah yang pojok.

Sepi. “Yes, saya nomor 1,” teriaknya dalam hati. Dia lihat jamnya. Menunjukkan pukul 18.30. Masih setengah jam lagi. Dia duduk dan mulai mencari-cari bacaan di meja yang ada.

Ketika lagi mencari-cari bacaan yang tepat, datang sepasang suami istri. “Untunglah aku datang duluan. Kalau nggak, aku setelah mereka,” kata Sari dalam hati. Dia mulai membaca majalah wanita.

Senyap. Dia mulai asik membaca. Lama-lama dia menikmati semua artikel di majalah itu. Ada artikel tips menggaet pasangan. Ada tips sukses berkarir di kantor. Juga cerita sukses seseorang, gosip selebritis sampai mode dan resep makanan.

“Lho, di mana saja aku? Kok aku tidak mau membaca majalah seperti ini,” gumamnya heran. Dia ingat-ingat. Ya, mungkin saja aku tak punya waktu. Dan dia baru sadar, bahwa hari ini pulang lebih awal. Lebih dini malah. Biasanya dia pulang paling cepat sekitar pukul 21. Bahkan sering sampai tengah malam.

Dia menghela napas. Menyadari seperti kerja rodi. Dia tersenyum kecut. Dan senyumnya semakin kecut, kalau dia bayangkan hari libur kadang masih harus masuk. Nglembur. Bahkan hari libur hari raya, dia tetap masuk. Justru hari-hari itu pengguna telekomunikasi semakin meningkat.

Akibatnya lingkungan sosialnya semakin mengecil. Teman-teman yang dia punya, entah itu teman sekolah atau kenalan semakin habis. Mereka satu per satu menikah. Kalau dia hubungi mereka untuk hang out, mereka bilang tak bisa.

Sebaliknya dia tak menambah teman baru lagi. Akhirnya satu per satu temannya habis. Dari sekian teman itu semakin sedikit lagi teman pria. Tentu saja sedikit harapan para teman pria itu menjadi kekasih kemudian berlanjut ke tahap selanjutnya.

Akhirnya menginjak usia 34 tahun ini, dia masih single. Sudah habis dilewati adik-adiknya menikah. Dua adiknya cewek sudah menikah semua. Entah itu sudah berapa kali dia didesak menikah oleh orang tuanya. Bukannya menolak. Tapi memang tidak ada pasangan.

Dia menghitung selama dewasa ini dia hanya pacaran 4 kali. Hanya 1 yang dia merasa pacaran benar. Sedang 3, yang terakhir, entahlah.. Dia merasa ada rasa keputus-asaan. Karena semua pacarnya adalah pria yang beristri. (TSA, 18/6/2009 subuh)

~~~
Bersambung…

~~~
Kisah ini diangkat dari kejadian sebenarnya. Kisah ini bagian dari serial ’1001 Jalan Mencari Cinta’. 100% tested. Artikel menarik lainnya bisa dibaca di: www.enerlife.web.id

~~~
*Mochamad Yusuf adalah konsultan senior TI, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus developer website & software SAM Design. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di http://m.yusuf.web.id/facebook.


Share