Tidak perlu enggan menjalankan apapun atas dasar kebaikan. Jika saat ini belum kelihatan hasilnya, maka terus lanjutkan dan segera lupakan. Biarkan hukum sebab akibat mengatur siklusnya.

Hukum Sebab Akibat
The Law of Cause and Effect

“Segala sesuatu yang terjadi tidak mungkin disebabkan oleh kebetulan, tentu ada sebabnya.”
– Andrew Ho –

Alam semesta yang begitu besar beserta isinya ternyata tunduk dan patuh tehadap hukum alam. Salah satu hukum alam tersebut menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi di alam semesta merupakan akibat dari sesuatu. Fenomena di seluruh belahan dunia, baik yang buruk atau positif, semua dikarenakan suatu sebab. Itulah yang dinamakan hukum sebab akibat, yang merupakan induk dari semua hukum alam yang ada.

Semua kejadian di dunia ini menjelaskan bagimana hukum sebab akibat ini bekerja. Contohnya adalah apa yang dialami oleh Nina (bukan nama asli). Wanita usia 20-an tahun ini sedang ditimpa masalah pelik, karena semua orang membenci dirinya.

Ternyata setelah ditelusuri, sikap dan perkataan Nina sering menimbulkan benih-benih kebencian dari orang-orang di sekelilingnya. Nina selama ini tidak pernah berusaha meredam kebencian itu, tetapi sebaliknya ia menjadikan kebencian itu makin subur. Sehingga pada suatu waktu kebencian itu meledak dan menyulitkan dirinya sendiri. Tentu kebencian itu bukan muncul tiba-tiba atau ada secara kebetulan, dan masih banyak contoh kejadian lain.

Segala hal yang terjadi terhadap diri kitapun tentu dikarenakan suatu hal. Bisa jadi kita tahu sebabnya, atau mungkin kita tidak akan tahu sama sekali dan tetap menjadi rahasia Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi yang jelas semua itu terjadi bukan karena kebetulan. Artinya, kita difahamkan bahwa apapun yang kita tanam, maka itulah yang nantinya akan tuai.

Hukum alam ini mengajak manusia untuk senantiasa menanam kebaikan dengan bersikap jujur, ikhlas, dan ringan tangan membantu sesama. Karena sekecil apapun bentuk kebaikan itu akan memberikan imbalan positif secara tidak terduga. Tetapi jika seseorang selalu bersikap jahat, kejam dan selalu menyebarkan isu negatif, berarti ia sudah menanamkan benih-benih kehancuran. Maka jangan heran jika suatu ketika ia akan menelan bencana.

Fenomena alam apapun sebenarnya merupakan petunjuk bagi manusia. Tetapi tidak banyak orang yang mengerti arti petunjuk dari hukum alam sebab akibat. Kebanyakan manusia mengeluh ketika sedang gagal atau tidak bahagia. Padahal, baik buruknya nasib kita sangat tergantung sejauh mana kita mengusahakan kesuksesan itu.

Agar lebih mudah memahami dan melaksanakan hukum alam ini, maka manusia dituntut untuk bersikap dan berpikir lebih bijaksana. Implementasi bentuk kebijaksanaan sikap salah satunya adalah kemurahan hati dan bantuan yang tidak harus berupa materi. Motivasi positif, makanan, minuman, tenaga, merupakan bagian dari perbuatan terpuji yang dapat disumbangkan kepada orang lain. Baru setelah itu kita dapat menanti hasil dari perbuatan kita.

Secara garis besar fenomena alam itu memberitahu bahwa setiap perbuatan baik tidak akan membiarkan seseorang menjadi jahat. Banyak contoh yang menyebutkan bahwa harta yang berlimpah tidak dapat memberikan kesenangan sampai mati. Kekayaan yang melimpah tidak dapat dijadikan tolok ukur apakah mereka dapat bertahan dengan kesenangannya hingga tutup usia.

Sebab hukum alam telah memberi rambu-rambu, menganjurkan agar orientasi kerja manusia selalu berlandaskan rasa cinta dan kasih sayang kepada orang lain. Landasan cinta dan kasih sayang kepada sesama memberikan jaminan hasil yang lebih besar dan bersifat jangka panjang. Contoh lain mengenai kedahsyatan hukum sebab akibat tercermin dari sebuah kisah berikut ini.

Beberapa tahun yang lalu saya memiliki seorang teman. Teman saya itu menceritakan tentang nasib Robert yang senang diramal. Suatu ketika Robert iseng meminta seseorang meramal masa depannya. Terjadilah percakapan seputar ramalan itu.

Orang yang meramal tadi berkata, “Hati-hati, nanti kamu akan mati kelaparan.” Robert langsung tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata itu. Lalu dia berkata, “Mana mungkin. Saya memiliki kekayaaan yang dimakan tiga generasipun tidak akan habis.”

Percakapan itu berakhir sampai kalimat ungkapan kesombongan itu selesai. Tetapi beberapa lama setelah percakapan itu atau kurang lebih 7 tahun yang lalu, apartemen yang ditinggali Robert itu ambruk. Tanpa diduga sama sekali, apartemen di Malaysia yang tinggi dan megah itu luluh lantak.

Dikabarkan banyak orang tertimbun reruntuhan gedung. Robert-pun tertimbun berhari-hari di bawah reruntuhan puing-puing apartemen mewah tempat tinggalnya. Belum sempat mendapatkan pertolongan, tetapi Robert keburu mati karena kelaparan.

Sebelum ajal menjelang, hukum sebab akibat ini selalu mempengaruhi. Tidak ada alasan bagi manusia untuk menyombongkan diri. Sebab Tuhan Maha Adil, tidak akan membiarkan kesombongan maupun kejahatan terus terjadi. Hukum sebab akibat ini menebarkan keseimbangan. Jadi, kebaikan apapun yang diusahakan hari ini tidak akan sia-sia. Suatu hari akan memberikan imbalan yang semestinya.

Dengan kata lain, tidak perlu enggan menjalankan apapun atas dasar kebaikan. Jika saat ini belum kelihatan hasilnya, maka terus lanjutkan dan segera lupakan. Biarkan hukum sebab akibat mengatur siklusnya, menentukan kapan dan bagaimana kebaikan itu kembali kepada kita entah dari mana arahnya. Jadi tidak perlu khawatir, karena hukum sebab akibat itu selalu menjamin hasil yang paling sepadan.*

~~~
Sumber: Hukum Sebab Akibat oleh Andrew Ho