Energize Your Life!
12 Jan
Sobat, pernahkah dirimu merasakan hal seperti ini?
Rasa bersalah yang teramat sangat. Jauh dari orang tua yang sekarang hanya tinggal berdua. Tak ada lagi putera-puteri yang tersisa. Semuanya berada dalam radius yang sangat jauh, menempuh episode kehidupan masing-masing.
Betapa sepinya mereka.
Sewaktu bayi, entah berapa kali kita mengganggu tidur nyenyak ayah yang mungkin sangat kelelahan setelah seharian bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita. Mungkin juga kotoran kita ikut tertelan ibu ketika kita buang ‘pup’ di saat ibu sedang makan.
Ibu juga tidak peduli ketika teman-temannya marah karena membatalkan acara yang sangat penting karena tiba-tiba anaknya sakit. Kekhawatiran demi kekhawatiran tiada pernah henti mengunjungi mereka setiap kali kita melangkah.
Beranjak dewasa, betapa tabahnya ayah dan ibu menerima pembangkangan demi pembangkangan yang kita lakukan. Mereka hanya bisa mengelus dada karena teman-teman di luar sana lebih berarti dari mereka. Jarang sekali sekali kita mau menyisakan waktu untuk menyelami mimik wajah mereka yang penuh kecemasan ketika kita pulang telat, karena ayah dan ibu selalu menyambut kita dengan senyum.
Sobat, pernahkah dirimu bangun tengah malam dan mendengar tangisan ibu dalam doanya seperti yang pernah aku dengar? Tangisan dan doa itulah yang mengantar kesuksesan kita. Pernahkah kita tahu ayah dan ibu terluka dan mengiba kepada Tuhan agar kita jangan dilaknat. Agar Tuhan mau mengampuni kita dan memberikan kehidupan terbaik untuk kita?
Pernahkah kita berterimakasih ketika kita dapati ayah dan ibu berbicara bisik-bisik karena takut membangunkan kita yang tertidur kelelahan?
Pernahkah kita menghargai patah demi patah kata yang mereka susun sebaik mungkin untuk meminta maaf karena mereka tidak sengaja memecahkan kristal kecil hadiah ulang tahun dari teman kita?
Pernahkah kita menyesal karena lupa menyertakan mereka di dalam doa?
Ah, Sobat, betapa tak sebanding cinta dan pengorbanan mereka dengan balasan kasih sayang yang kita berikan. Setelah dewasa dan bisa ‘menghidupi’ diri sendiri, kita masih bisa melenggang ringan meninggalkan mereka (mereka ikhlas asal kita bahagia).
Lalu?
Mungkinkah kita bisa seperti Ismail yang merelakan dirinya disembelih ayah kandung demi menuruti perintah Tuhan? Atau seperti Musa yang dihanyutkan ketika bayi?
Ternyata kita masih sangat jauh.. Lalu bakti seperti apakah yang bisa kita persembahkan?
Sobat, masih banyak waktu untuk membahagiakan mereka. Hal yang terkecil yang bisa kita lakukan adalah: tak mengatakan ‘tidak’ ketika mereka menyuruh atau menginginkan sesuatu (tentu saja bukan yang bertentangan dengan agama).
Segeralah silatutahmi. Salami dan cium tangan mereka. Kedatangan kita tak akan bisa dikalahkan 1000 sms yang kita kirim untuk bertanya kabar mereka. Namun kalau tak memungkinkan telpon dengan nada ceria untuk menyapa dan menanyakan kabarnya.
Bahagiakan ayah, bahagiakan ibu! Mulai dari sekarang, selagi Tuhan masih memberi kesempatan. Walau takkan pernah sebanding, doa-doa kitalah yang mereka harapkan menemani di peristirahatan terakhir nanti.
Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami.
Kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami sedari kecil.
Jadikan kami termasuk anak-anak yang saleh ya Tuhan
hingga doa-doa kami termasuk doa-doa yang berkenan bagi Engkau.
Amin.
~~~
Sumber: dari internet.
One Response for "Kapan Terakhir Sapa Ayah dan Ibu Anda?"
i miss u mom & dad
Leave a reply