Oleh: Mochamad Yusuf*

Sekelompok penyadap getah tergesa-gesa kembali ke desanya. Selain sudah cukup mendapatkan getah dari hutan, hujan turun deras terus-menerus. Mereka takut tidak dapat pulang karena satu-satunya jembatan yang ada sering terendam kalau hujan deras. Padahal sungainya sangat lebar. Dan tak mampu kalau berenang menyeberanginya apalagi kalau arusnya deras.

Ternyata jembatan itu belum terendam, namun di bawahnya arus sungai sangat deras. Dengan hati-hati mereka menyeberang. Namun malang 2 orang di antara mereka tergelincir dan jatuh ke sungai. Untunglah mereka sempat berpegangan pada balok kayu yang hanyut.

Melihat situasi seperti itu, teman-teman yang selamat di atas jembatan berteriak-teriak agar mereka menyerah saja. Berdoa dan meminta ampun kepada Yang Maha Kuasa. Mumpung ada kesempatan. Mereka sendiri tak bisa menolongnya, karena resikonya sangat besar.

Namun 2 orang ini mengacuhkannya. Mereka berjuang untuk ke tepian. Karena dalamnya dan derasnya sungai, mereka berkali-kali gagal. Tapi mereka tetap nekat dengan mengerahkan segala kemampuannya untuk selamat. Tapi lagi-lagi gagal. Yang selamat tetap berteriak agar mereka menyerah dan berdoa saja. Kans selamatnya kecil.

Akhirnya salah 1 dari 2 orang tadi putus asa dan mendengarkan teriakan teman-teman yang di atas jembatan. Akhirnya dia tewas dan terseret arus yang deras. Sedang yang satunya semakin gigih berjuang untuk selamat. Sekali lagi teman-temannya yang selamat berteriak untuk menyerah saja. Namun orang ini tidak menyerah bahkan lebih bersemangat lagi untuk selamat. Akhirnya dia berhasil selamat dan menepi di pinggir sungai.

Setelah beristirahat sejenak, yang selamat bertanya, “Apa kamu tak mendengar teriakan kami?” “Apa?” tanyanya lagi minta diulang pertanyaan mereka. Lalu dia membaca gerakan bibir orang lain yang bertanya kembali. Karena dia tuli. “Oh aku tak sempat melihat gerakan bibir kalian. Tapi saya pikir kalian semua memberi semangat untuk berusaha keras agar selamat.” Akhirnya mereka sadar bahwa teriakan-teriakan mereka dianggap telah memberikan semangat padanya.

~~~

Hikmah yang bisa dipetik dari cerita ini:

1. Kekuatan sukses atau gagal bahkan hidup atau mati ada di kata-kata. Kekuatan kata-kata yang diberikan pada seseorang yang sedang ‘jatuh’ justru membuat seseorang bangkit dan bersemangat kembali menjalani hidupnya sehari-hari.

2. Kata-kata yang ‘buruk’ yang diberikan pada seseorang yang sedang ‘jatuh’ dapat ‘membunuh’ mereka. Hati hatilah dengan apa yang anda diucapkan. Suarakan ‘Kata-kata kehidupan’ pada mereka yang sedang menjauh dari jalur hidupnya. Kadang-kadang memang sulit dimengerti bahwa ‘kata-kata kehidupan’ itu dapat membuatnya berpikir dan melangkah jauh dari yang kita perkirakan.

Semua orang dapat mengeluarkan ‘kata-kata kehidupan’ untuk membuat rekan dan teman atau bahkan kepada yang tidak kenal sekalipun untuk membuatnya bangkit dari keputus-asaanya, kejatuhannya dan kemalangannya.

~~~
Sungguh indah apabila kita dapat meluangkan waktu kita untuk memberikan ‘kata-kata kehidupan’ bagi mereka yang sedang putus asa dan ‘jatuh’. (TSA, 14/5/2009 subuh)

~~~
*Mochamad Yusuf adalah konsultan senior TI, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus developer website & software SAM Design yang aktif menulis. Beberapa bukunya sudah diterbitkan. Beliau tinggal di pinggiran Surabaya. Anda dapat memantau aktivitasnya di profil facebooknya: http://m.yusuf.web.id/facebook.