Saya tercenung. “Ah, pedagang kecil, Suf,” kata saya dalam hati, “Untungnya sangat kecil. Kalau tak begitu, malah nggak dapat untung sama sekali.” Ah ya, mungkin ini hanya untuk pedagang kecil.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Ada pasar di depan perumahan saya. Tidak cukup besar. Namun cukup lengkaplah. Masyarakat sekitar perumahan berbelanja di sini. Suatu waktu ketika jalan-jalan dengan Zelda, putri saya, terbit keinginan melakukan sesuatu. Ini timbul setelah saya lihat timbangan namun entah penjualnya dimana.

Saya ingin buktikan ungkapan yang sering beredar di masyarakat. Kalau timbangan pedagang sering tidak akurat. Sebelum melakukan itu saya yakinkan dulu kalau tidak ada penjualnya. Sungkan kalau ketahuan.

Timbangan itu timbangan umum yang sering ada di pasar tradisional. Sebuah timbangan kesetimbangan. Dimana di satu sisi ada tempat untuk anak timbangan, sedang yang lain wadah untuk barang yang mau ditimbang. Beratnya dilihat dengan menyamakan kedua pelatuk di tengah-tengah antara sisi satu dengan lain.

Saat itu saya lihat di wadah tidak ada barang yang ditimbang. Namun sudah ada anak timbangan dipasang. Jadi posisi pelatuk tidak sama. Saya angkat anak timbangan. Dengan begini, seharusnya pelatuknya sama. Karena tidak ada barang dan anak timbangan. Namun meski sudah saya angkat, posisinya tetap. Sisi yang ditempati anak timbangan tetap lebih berat. Kedua pelatuk tidak sama.

Saya geleng-geleng. Saya tak tahu diberi pemberat berapa besar. Ini tentu saja merugikan pembeli. Karena barang beratnya menjadi tidak akurat. Lebih ringan dari seharusnya. Ketika saya melakukan ini, penjual di samping tersenyum-senyum geli. Saya tak tahu apa maksud senyum geli itu.

Saya tercenung. “Ah, pedagang kecil, Suf,” kata saya dalam hati, “Untungnya sangat kecil. Kalau tak begitu, malah nggak dapat untung sama sekali.” Ah ya, mungkin ini hanya untuk pedagang kecil.

Namun kemarin pulang kantor, istri saya bercerita tentang keluhannya terhadap sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di negeri ini. Ini gara-gara tagihannya membengkak. Lebih besar daripada biasanya. Setelah dicek ternyata ada tagihan suatu jasa baru.

Istri saya komplain ke call centre-nya. Katanya jasa baru ini telah disetujui via telpon. Tentu saja istri saya menolak klaim ini. Karena nomor itu ‘direct’ ke ruangnya. Tak ada orang selain dia. Selalu terkunci kalau tak ada orang. Dan sehari-harinya tidak ada orang di kantor itu, karena mereka sudah dinas keliling kemana-mana. Dan mereka tak berani untuk masuk bila tidak terkunci.

Lucunya ketika minta dihentikan, tidak langsung bisa berhenti. Tapi baru bulan depannya. Tentu saja selama itu tetap membayar. Dan yang lebih bikin jengkel lagi… itupun baru bisa terjadi setelah datang ke tempat pengaduan khusus. Tidak bisa via telpon.

Lucu kan? Mereka begitu mudah mengaktifkan tanpa diminta. Tapi ketika diminta non aktif, malah dipersulit. Dan saya baca di milis, keluhan serupa ini begitu banyaknya sehingga antriannya sangat panjang. Bisa seharian untuk mengurus ini. Kita rugi segalanya; waktu, tenaga dan uang. (Dan kasusnya kebanyakan sama. Katanya sudah disetujui, padahal di rumah yang ada cuma pembantu dan anak berumur 2 tahun).

Waktu dia bercerita tentang ini, istri saya begitu meledak-ledak. Ternyata dia begitu marah dengan permasalahan ini. Bahkan sudah menyemprot habis-habisan call centre-nya. Saya tanya lagi, “Sekarang bagaimana? Apa sudah normal?” “Boro-boro,” jawabnya, “Ini saja seharinya sudah tak ada orang, masak harus ke sana. Kengangguran ta? (demikian nggak ada pekerjaan?). Juga saya takut berbelit-belit. Karena ini perusahaan multi nasional kepemilikan asing, telpon itu atas nama Bos di Jakarta. Nanti minta surat kuasa ini itu dan lainnya.”

Saya menghela napas. Geleng-geleng kepala lebih keras dibanding melihat timbangan pedagang di perumahan itu. Karena saya juga mengalami hal yang hampir sama, tapi perusahaan telekomunikasi lain (saya akan kisahkan di lain waktu).

Melihat kejadian-kejadian ini, saya tercenung. Kemana kira-kira perginya kejujuran itu? Kemana perginya nurani itu? Bagaimana kalau pedagang kecil itu juga dicurangi pembeli lain? Bagaimana rasanya? Apakah tidak bisa meminta persetujuan secara tertulis atau memastikan bahwa yang dimintai persetujuan adalah orang yang berwenang. Lha kalau anak SD kelas 3, tak tahu apa-apa dimintai persetujuan? Apakah tidak lebih baik mereka yang butuh saja yang aktif minta? Atau malah lebih baik diberi selebaran promosi dulu, kalau mau mengaktifkan harus minta dulu meski bisa via telpon?

Geleng-geleng kepala semakin keras. Apakah untuk mendapatkan keuntungan (dunia) harus melakukan segala cara meski itu merugikan orang lain? Tak takutkah mereka dirugikan oleh orang lain di hal yang lain? Apakah dengan cara begini, maka harus saling merugikan? Karena yang lain juga melakukan hal yang sama? Karena semua juga telah merugikan yang lain. Kalau tidak melakukan, kita akan selalu jadi korban.

Nurani dimanakah kamu? (Bukan Nur Aini lho). Kejujuran dimanakah kamu? (Saya dulu waktu kerja di SCTV punya teman namanya pak Jujur Setiawan. Saya tak tahu sekarang di mana dia. Bukan dia yang saya maksudkan).

(Tentu saja saya bertanya-tanya dalam hati, apa yang bisa kita lakukan untuk menghentikan hal ini semua. Untuk pedagang kecil, mungkin pendekatan personal. Kalau pedagang besar, seharusnya pemerintah bertindak. Kalau tidak, saya takut negeri ini jadi bobrok).

Bagaimana pendapat anda? (TSA, 21/10/2009 subuh)

~~~
*Mochamad Yusuf adalah konsultan senior TI, pembicara publik, pengajar sekaligus developer website & software. Aktif menulis dan bukunya telah terbit. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di profil Facebooknya.


Share