Tak sedikitpun si istri mengeluarkan air mata, hanya pasrah dan ikhlas yang tampak pada wajahnya. Sementara si kecil Nisa hanya memandang sambil terisak. Dia tahu bapaknya telah pergi untuk selamanya.

ibu anakKisah ini mungkin sudah berlalu sangat lama kurang lebih empat tahun yang lalu. Tapi semua itu masih lekat tersimpan dalam benak saya. Betapa saat itu saya melihat seorang wanita dengan sangat tabah dan tegar mengantar kepergian sang suami tercinta ke pangkuan sang Khaliq.

Terbayang dalam benakku peristiwa empat tahun lalu, gambaran keceriaan seorang istri yang baru saja mengetahui dirinya hamil. Dialah Ikah Triningsih. Yah.. saya masih ingat.. peristiwa ini terjadi sebelum kepergian suaminya, di bulan April 2000.

Dibonceng suaminya yang mengendarai motor, Ikah memberi kabar gembira kepada ibunya, “Ibu.. Ibu.. Alhamdulillah Ade hamil”, katanya di sela-sela deruan motor. Tak sempat berhenti, kabar inipun disambut gembira sang ibu dengan memberi isyarat acungan jempol. Ternyata pasangan muda itu baru saja pulang dari pemeriksaan bidan.

Kebetulan di tengah jalan bertemu ibunya Ikah yang sedang belanja. Alhamdulillah…kabar gembira itu pun tersebar di kalangan keluarga besar, tak lupa pula mereka menyampaikan kabar ini kepada kedua anaknya di rumah.

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari yang terwarnai mual dan pusing, sampai akhirnya Ikah harus dirawat di rumah sakit. “Ibu diopname saja ya, harus diinfus”, dokter menjelaskan pentingnya dirawat di rumah sakit. Sebab, Ikah terlalu sering muntah sehingga kekurangan cairan, sementara asupan makanan tidak sebanding.

Setelah perawatan di rumah sakit selama satu minggu, kondisi Ikah semakin membaik. Saat itu janin dalam kandungannya sudah memasuki empat bulan. Hari-hari di rumah kembali ceria bersama anak dan suami.

Namun ternyata perjuangan Ikah belum berakhir. Tiba-tiba kondisi kesehatan suaminya menurun drastis. Rambutnya mulai rontok, nafsu makan berkurang dan tubuhnya semakin kurus. Ikah heran, mengapa hal ini cepat terjadi. Tanpa Ikah ketahui, sebenarnya penyakit yang diderita suaminya sudah lama. Sejak Ikah dirawat di rumah sakit, penyakit suaminya sudah mulai serius. Hanya karena rasa cinta yang mendalam dan tak ingin memberatkan istri, sang suami tak pernah mengeluh apalagi bercerita tentang kondisi sebenarnya. Maklum saja, biaya berobat sangat mahal.

Suami Ikah hanya ingin mengalokasikan uang yang terbatas untuk perawatan istri di rumah sakit, sampai-sampai ia mengabaikan kepentingan dirinya sendiri. Alhamdulillah Ikah memiliki keluarga besar yang ringan tangan. Salah seorang adik laki-lakinya kerap kali menjenguk dan bahkan turut membantu keuangan kakaknya yang sedang ditimpa musibah. Padahal dia sendiri punya tanggungan keluarga: istri dan dua orang anak yang masih kecil. Atas saran adik, akhirnya Ikah membawa suaminya ke pengobatan alternatif tradisional .

Namun pengobatan alternatif ternyata bukan pula solusi kesembuhan. Hanya dalam hitungan dua minggu setelah Ikah keluar dari rumah sakit, terpaksa kini giliran Ikah mengatarkan suami ke rumah sakit. Padahal kondisi kesehatan dirinya sendiri belum lagi pulih seperti sedia kala.

Tak berapa lama menjalani perawatan di rumah sakit, suaminya mengalami koma. Hati istri mana yang tak pilu melihat suaminya dalam kondisi seperti itu. Sambil berdoa dan mengelus-elus janin di perutnya yang semakin membesar, Ikah dengan tabahnya mendampingi suami di rumah sakit.

Hanya sempat dirawat dua hari, dokter yang menangani akhirnya angkat tangan dan merujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Alasannya, di rumah sakit yang lebih besar peralatannya lebih lengkap. “Suami Ibu harus cuci darah”, demikian jelas dokter yang menangani. Dokter menduga suami Ikah mengalami kerusakan ginjal sehingga meracuni otak kecil.

Ikah sempat bimbang, dari mana ia mendapatkan biaya pengobatan yang begitu besar. Rumah sakit yang menjadi rujukan dokter termasuk rumah sakit yang mahal. Namun kekuatan iman membuat ia kembali tegar. Tak sedikitpun ia mengeluh, Ikah yakin betul semuanya adalah cobaan dari Allah. Dengan mantap Ikah menyetujui pindah rumah sakit. Saat itu, sudah tidak ada alternatif rumah sakit lain yang murah tapi juga dilengkapi peralatan cuci darah.

Sesampainya di rumah sakit besar, dokter segera bertindak. Saat itu kakak kandung Ikahlah yang menyelesaikan urusan administrasi. Allah Maha Tahu batas kemampuan hambaNya dan Maha Pengabul doa seorang istri. Semua proses administrasi berjalan mudah. Saat diminta menandatangani persetujuan tindakan cuci darah, kakak Ikah sempat berterus terang, “Dok.. kami belum punya biaya pengobatan.” Sambil tersenyum, dokter menjawab, “Bu…saya hanya minta tanda tangan, karena bila tidak segera cuci darah, adik ipar Ibu akan meninggal”.

Mendengar penjelasan dokter, Ikah sangat bersyukur tapi sekaligus tersadar betapa gawat kondisi suaminya. Tak urung Ikah menangis sambil merangkul kakaknya, “Teh …. saya masih mau bersamanya, saya belum sanggup untuk hidup sendiri”. Dengan kerongkongan yang tercekat menahan tangis si kakak menimpali, “Sabar ya, kalau memang itu harus terjadi, kan ada Allah dan Teteh yang selalu bersama kamu.”

Satu minggu sudah sang suami di rumah sakit dan dalam satu minggu itu pula suaminya menjalani tiga kali cuci darah. Alhamdulillah kondisinya semakin membaik dan dokter membolehkan pulang. Itupun karena permintaan pasien yang khawatir biaya pengobatan membengkak.

Sesampainya di rumah, mulailah Ikah dengan sabar dan telaten merawat suami dan membeli obat-obatan. Kini Ikah menjadi tulang punggung keluarganya sendiri, merangkap menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Ikah tahu diri dan tak ingin selalu merepotkan kakak maupun adiknya. Oleh sebab itu ia mencoba mencari penghasilan sendiri dengan menjual barang-barang di rumahnya.

Allah ternyata masih menguji ketabahan Ikah. Selama perawatan di rumah, tiba-tiba suaminya kembali koma dan harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk cuci darah. Lagi-lagi Ikah harus tabah menyaksikan suaminya cuci darah.

Di sela-sela ketabahannya, Ikah memanjatkan doa kepada Allah yang Maha Kuasa, “Ya Allah jangan dulu mengambil suamiku, aku belum sanggup untuk ditinggal.” Bulir-bulir air mata Ikah, sering kali meluncur saat melantunkan doa nya. Suatu hal yang sangat manusiawi, seorang istri tidak ingin kehilangan suaminya. Dua hari setelah cuci darah yang ketujuh suami Ikah kembali payah, padahal sebelumnya sempat membaik.

Menyadari penderitaan suaminya yang amat sangat, Ikah terlihat begitu pasrah, biarlah Allah menentukan apa yang terbaik bagi suaminya. Bahkan menurut dokter kerusakan ginjal sudah mencapai pada otak besar. Betapa pilu hati Ikah melihat dan keringat yang keluar dari tubuh suaminya bukan lagi cairan bening melainkan darah dan matanyapun sudah tidak dapat melihat lagi.

Dengan penuh kasih sayang Ikah menyeka buliran darah yang keluar dari tubuh suaminya, sambil terus memberi semangat suami. Kesedihan hati Ikah mencapai titik puncak di saat dia melihat suaminya sudah tidak lagi bisa makan dan minum dengan normal.

Tepat pada haru Sabtu 2 September 2000, pagi itu si suami minta Ikah agar mengantarnya ke kamar kecil untuk buang air besar. Inilah terakhir kali Ikah memapah dan membersihkan suaminya setelah buang hajat. Setelah itu suaminya memohon agar adik laki-laki Ikah untuk datang. Inikah tanda perpisahan semakin dekat? Hati kecil Ikah membantin. Kepada sang adik ipar suami Ikah mohon diantarkan pergi menemui seorang tabib yang pernah mengobatinya.

Ditemani juga dengan istri dan anaknya, disana ia minta dibacakan ayat-ayat suci Al-Quran. Saat itu kondisi suami Ikah sudah semakin parah, ia sudah tidak bisa bergerak. Dengan mata nanar namun masih sadar, di atas pangkuan Ikah, suaminya lamat-lamat mengikuti lantunan ayat suci Al-Quran.

Inilah detik-detik perpisahan seorang suami dengan istrinya, seorang bapak dengan anaknya. Si Kecil Nisa yang baru berumur lima tahun terisak melihat papanya menghadapi sakaratul maut, ia tahu papanya akan meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.

Sebelum ajal datang menjemput, suami Ikah sempat berpesan kepada adik iparnya untuk menjaga Ikah. Kepada istri tercinta, ia pun sempat berpesan, bila kelak janin yang dikandungnya lahir adalah anak laki-laki supaya diberi nama Lutfy.

Sebelum menghembuskan nafas yang terakhir ia berpamitan kepada Ikah. Sedangkan Ikah hanya dapat berkata tulus, “Pergilah Pa. Ummi ikhlas kok. Semoga ini adalah yang terbaik buat Papa.” Kalimat itu begitu lancar meluncur dengan penuh kelembutan dan ketenangan tanpa sedikitpun menitikkan air mata. Sekejap suasana keharuan menyeruak dalam ruangan.

Pemandangan apa lagi yang mengharukan, yang membuat hati begitu sangat tersentuh, melihat seorang istri yang sedang hamil lima bulan sementara suaminya meninggal dalam pangkuannya. Tak sedikitpun si istri mengeluarkan air mata, hanya kepasrahan dan keikhlasan yang nampak pada raut wajahnya. Sementara si kecil Nisa hanya memandang dari jauh sambil terisak. Dia tahu bapaknya telah pergi untuk selamanya.

Ya Allah, Engkau Maha Tahu kekuatan dan kesiapan setiap hamba, dan sudah Engkau tuliskan di Lah Mahfuz cobaan apa saja yang akan menimpa setiap hambaMu. Maka tabahkanlah dan beri kekuatan untuk seorang istri yang kini harus merawat tiga anak yatim.

Itulah kekuasaan Allah. Maka bila ajal telah datang tidak dapat lagi dimundurkan atau dimajukan. Suami hanyalah titipan Allah. Sesungguhnya segala sesuatu itu akan kembali kepada sang Pemilik.

~~~
Seperti yang dituturkan Ummu Mufais kepada Kharisma, saat mengenang kepergian sang kakak iparnya.