Rumah besar itu kosong. Dulu penuh dengan keriuhan, gelak canda dan pertengkaran penghuninya, sekarang kosong. Penghuninya keluar rumah. Bahkan jauh ke luar negeri. Sekarang pemiliknya termangu sedih.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Saat reuni kita sering bertukar kabar kondisi terakhirnya; tinggal di mana sekarang, kerja dimana, anaknya berapa. Setelah itu bercerita masa lalu yang mengesankan. Cerita suka duka yang dilalui waktu sekolah dulu. Dan kadang baru paham sebuah kejadian setelah sekarang menjadi ‘terbuka’. Jadi tertawa bareng mengenangnya.

Tapi bila dulu saya sering main ke rumahnya, saya menanyakan pula kabar orang tuanya. Apakah masih sehat? Apakah masih tinggal di situ (saya menyebut sebuah alamat/daerah). Bagaimana kabar saudaranya (kakak/adik).

Seringkali jawabannya orang tuanya masih tinggal di situ. Hanya ada Bapak dan Ibunya. Namun anak-anaknya sudah tidak tinggal di sana. Sudah tidak sekota lagi. Bahkan hidup di luar pulau bahkan luar negeri.

Saya bayangkan bagaimana sepinya rumah itu sekarang. Dulu rumahnya besar dengan kamar yang banyak. Karena banyak anaknya. Di sebuah rumah teman, bahkan di samping rumahnya dijadikan usaha. Ramai sekali karena keriuhan kerja dan banyaknya pekerja. Sekarang jadi sepi.

Kemarin setelah mengantar reuni istri, kita berkunjung ke rumah beberapa temannya. Banyak rumah besar sekarang kosong. Gelap dan suram. Beberapa rumah itu ada usahanya. Seperti perdagangan beras, perdagangan bawang, pertanian, percetakan, angkutan dan lainnya. Beberapa masih jalan, beberapa lain sudah tidak lagi. Toh mereka tinggal berdua, pekerjaan yang ada sudah cukup untuk hidup.

Saya tak tanyakan bagaimana perasaan mereka sebenarnya.

Yang sering saya tanyakan pada mereka, apakah mereka (anak-anaknya) masih sering sowan (datang) ke sana. Jawabannya untuk yang dekat masih, meski tidak sering. Sedang yang di luar kota paling setahun sekali pas lebaran. Kadang itupun tidak. Bisa 2-3 tahun sekali.

Tentu saja sekarang sudah maju. Peralatan komunikasi sudah demikian canggih. Tak harus datang, kita bisa sms atau cukup telpon untuk menyapa atau bertukar kabar. Tapi bagaimanapun silaturahmi dengan tatap muka tak bisa menggantikan peralatan teknologi secanggih apapun.

Rasulullah menyuruh kita silaturahmi untuk mengunjunginya. Khususnya pada orang tua. Silaturahmi atau silaturahim ada kata rahim yang menunjuk pada tempat kita sebelum lahir, yakni di perut Ibu.

Pahalanya berbeda sekali dibandingkan silaturahmi tanpa tatap muka. Meski kita bisa tahu kabar masing-masing dengan pakai telpon atau sms, tapi dengan adanya kehadiran akan terasa beda. Karena adanya sentuhan dan tatap muka yang bisa menggantikan ribuan kata.

Saat ini saya dan mungkin anda direpotkan dengan anak-anak. Rumah hiruk pikuk dengan teriakan, tangisan atau rengekan anak. Rumah kotor dan berantakan karena mainan anak. Tapi kelak mungkin saya dan anda, termangu sepi di rumah sendiri. Hanya bersama pasangan. Karena anak tinggal jauh dari kita mencari nafkah.

Karena itu, bila anda sekarang tinggal jauh dari orang tua, usahakan minimal sekali setahun mengunjunginya. Mungkin saat lebaran atau natalan. Ya pasti memerlukan pengorbanan yang besar untuk bisa melakukannya.

Tapi mumpung masih ada, kita tunjukkan darma bakti kita pada mereka. Rasa terima kasih atas pengorbanan mereka menjadikan kita seperti saat ini. Karena apapun di dunia masih bisa dicari. Tapi orang tua hanya sekali,… dan mumpung masih ada kesempatan. (TSA, 08/10/2009 subuh)

~~~
*Mochamad Yusuf adalah konsultan senior TI, pembicara publik, pengajar sekaligus developer website & software. Aktif menulis dan bukunya telah terbit. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, atau di profil Facebooknya.


Share