Energize Your Life!
11 Aug
Jangan khawatir isinya sama dengan kata pengantar buku saya. Ini eksklusif untuk anda! Hehehe. Tulisan ini akan mengungkap latar belakang dan alasan saya menulis buku itu. Mungkin agak narsis, hehehe.
Kenapa saya ingin menulis buku? Ingin terkenal? Ingin dapat duit banyak? Ingin dapat amal ibadah? Ingin tetap diingat meski sudah ratusan tahun? Ingin punya penggemar? Ingin bisa diajak ngobrol dengan Andy F Noya dalam Kick Andy? Bisa percaya diri buat Facebook fan-page dengan status ‘writer’? Ingin diburu tanda tangannya?
Seamuanya tidak! Eh iya… tapi itu bukan niat utama saya. Tujuan utama saya bukan itu. Kalau itu nantinya tercapai, saya kira itu hanya dampak lain saja (semoga tercapai dampak lain itu, hehehe).
Niat besar saya menulis buku adalah untuk meningkatkan pencapaian saya. Harus lebih! Harus lebih hebat lagi! Harus prestasi lebih luar biasa lagi! Lebih tinggi lagi apa yang sudah saya capai! Seperti yang dikatakan Zelda, anak saya berumur 2 tahun lebih ketika mencapai sesuatu yang dirasa luar biasa, “Yah, aku hebat ya Yah!” (Ya, kamu memang hebat Zel!)
Sejak SMA saya sudah rutin menulis di rubrik “Kronik Pelajar” di Surabaya Post edisi Minggu. “Kronik Pelajar” adalah rubrik yang memang dibuat khusus dari pelajar, oleh pelajar, untuk pelajar. Saya kira “Kronik Pelajar” adalah rubrik pertama yang benar-benar untuk pelajar. Tema yang diangkat sekitar reportase kegiatan sekolah, prestasi pelajar dan opini kasus-kasus pelajar. Dikirim dari para pelajar seluruh Jawa Timur. Dan memuat kegiatan semua sekolah di Surabaya dan sekitarnya.
Secara insiden saya juga menulis di media massa lain. Tapi tidak banyak.
Tulisan ini menjadikan saya memiliki uang saku sendiri. Ketika para pelajar jajan di KFC dengan uang orang tua, saya duduk di pojok menikmati ayam goreng, frenc fries, nasi dan coca-cola dengan uang sendiri. Dengan nikmat! Saya gigit perlahan-lahan, saya nikmati kebahagiaan pada waktu itu.
Saya ingat harga paket KFC pada waktu sekitar 2.250. Paket standar: nasi, ayam goreng, french fries dan coca-cola. Padahal honor saya sekali tulisan dimuat sekitar 15.000. Bisa lebih. Tergantung panjang pendeknya tulisan. Iya, honor memang diukur dengan penggaris. Hehehe.
Ketika dimuat hari minggu, saya ke Surabaya Post sekitar Rabu-Kamis. Bahkan bisa lama. Saya naik ke lantai 2, belok ke kiri bertemu redakturnya. Minta surat HR. Ngobrol-ngobrol dulu dengan redakturnya. Saya menyukuri hal ini karena bisa bertemu dengan mereka. Karena kelak mereka jadi orang hebat!
Pertama kali menulis “Kronik Pelajar” sempat dengan redaktur mbak Muflihana. Kelak dia kerja di majalah Femina. Lalu dilanjutkan dengan mbak Sirikit Syah, orang hebat yang lain. Kelak dia pindah ke SCTV (dan saya ternyata juga mengikutinya). Dia sempat jadi ketua KPID. Sekarang dia dosen di Unitomo dan STIKOSA AWS.
Terakhir dan paling lama berhubungan yakni dengan mas Sukemi. Sekarang dia asistennya pak M. Nuh, Menkominfo. Dan terakhir dengan mbak Siane Indriani. Saya tahu dia tapi tidak berhubungan intens seperti yang lain. Karena sudah lulus SMA. Tidak boleh menulis untuk “Kronik Pelajar” lagi. Tapi saya memang masih menjaga kontak dengan “Kronik Pelajar”. Sekarang dia manager news di MNC group.
Saya memang tidak berhubungan lagi dengan mereka saat ini. Tapi saya terus mengikuti perjalanan mereka. Beruntung bulan puasa kemarin saya sempat bertemu dengan mas Sukemi. Sedang yang lain, saya masih kontak dengan via email dengan mbak Sirikit.
Setelah kuliah, pencapaian saya lebih meningkat. Saat itu saya mulai menulis di rubrik opini. Letaknya biasanya di tengah. Opini saya pernah dimuat di Surabaya Post dan Jawa Pos. Tulisan saya bersanding dengan para pakar dan akademis. Keren!
Wah, bangga sekali! Di SMA saya bangga, karena tidak banyak pelajar yang melakukan itu. Ketika kuliah lebih bangga lagi. Karena tidak hanya mahasiswa yang jarang melakukan, dosen pun juga tidak banyak yang melakukannya.
Di SMA itu, saya meraih beberapa kali penghargaan untuk lomba karya tulis. Untuk se-Jawa Timur dan se-Surabaya, saya pernah meraihnya. Keduanya Juara I. Untuk se-Indonesia, saya pernah maraih Juara Harapan I. Pencapaian ini waktu lomba karya tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh IPB dan Kementerian Lingkungan Hidup di kampus IPB.
Namun setelah bekerja, pencapaian saya berhenti. Jangankan mempertahankan pencapaian itu, saya malah berhenti menulis. Waktu di SCTV saya sudah tak sempat menulis lagi. Tak ada karya satu bijipun. Saya memang masih menulis, tapi menulis copy! Copy untuk promo program-program. Hal itu semua itu berhubungan dengan pekerjaan.
Namun mulai ada harapan ketika kerja di SAM Design. Memang awal-awalnya masih belum ada pencapaian. Tapi pelan-pelan saya mulai menulis. Hal ini karena didukung dengan teknologi internet. Awalnya hanya saya kirim khusus ke teman-teman terdekat via email. Lalu dikirim ke milis. Namun sejak memiliki personal website sendiri, M.Yusuf.web.id, saya mulai produktif.
Tapi semuanya tetap dibingkai di personal website. Saya merasa itu belum menyamai pencapaian saya waktu dulu. Bahkan sekalipun pencapaian waktu di SMA! Karena semua itu hanya tulisan di media sendiri. Di personal website atau blog. Semua orang bisa melakukannya! Karena tak ada persaingan. Tulisan bagus jelek pasti bisa dimuat. Wong punya sendiri.
Saya sendiri mencoba menulis beberapa kali untuk media massa. Hasilnya tewas dengan sempurna. Alias tak dimuat. Ihik… ihik… Bahkan tak ada komentar dari redaksi. Saya tahu, sekarang lebih ketat lagi kalau mendapat pencapaian di media massa.
Akhirnya saya putuskan untuk menulis buku sekalian. Saya tahu ini lebih sulit lagi dibanding menulis di media massa. Apalagi kalau pasang target jadi best seller. Kalau tulisan di media massa, haruslah tulisannya bagus dan berguna, untuk jadi buku punya tambahan syarat lagi. Yakni: menjual! Tentu saja penerbit tidak mau rugi, kalau menerbitkan jadi buku.
Tiap tahun selalu saya pasang target menulis buku. Tapi selama 3 tahun, nol besar pencapaian! Tidak ada satu lembar pun yang saya buat. Ternyata banyak sekali hambatan. Dan saya sadar, kalau impian itu (saya katakan obsesi) bisa terwujud kalau saya bersikeras mewujudkannya.
Kalau sekarang, buku itu sudah di tangan pembaca, saya mengucap syukur dan bangga bisa melebihi pencapaian saya yang sudah saya lakukan. (TSA, 14/8/2009 subuh)
~~~
(BERSAMBUNG)
2 Responses for "Mengapa Saya Menulis Buku “99 Jurus Sukses Mengembangkan Bisnis Lewat Internet” (1)"
ditunggu buku yang berisi jurus jurus jitu yang lainnya pak, thanks
Pak Yusuf ,
Sangat inspiratif . Sepertinya ceritanya mirip dengan saya Pak . Tapi tentu , Anda sudah lebih dulu di depan saya . Saya pun berkeinginan untuk menulis buku dari sejak 2 tahun ini dan tentunya juga bbrp cita2 yang lain. Dan hasilnya , nama saya belum juga nongol di toko buku heeee..
Sukses Pak,
Teddy
Leave a reply