Kini dia merasa dikhianati anaknya. Apa yang dirasa diperjuangkan untuk anak, sekarang mereka tak mempedulikannya. Kalau dia barusan datang ke rumah mereka, kata pertama yang muncul, “Kapan pulang?”

sakit hati
Oleh: Mochamad Yusuf*

Ardina Setyawati membaca sekali lagi sebuah artikel koran di depannya. Entah sudah keberapa kali dia membacanya. Namun dia ingin selalu membacanya. Tak bosan-bosannya. “Lagian saya tak ada pekerjaan,” katanya dalam hati.

Setiap selesai membaca dia selalu berurai air mata. Dia merasakan sebuah kebanggaan, kebahagiaan sekaligus kesedihan. Namun juga ada rasa pengkhinatan sekaligus penderitaan.

Artikel itu merupakan sebuah feature tentang dirinya. Dikatakan di koran itu, bahwa dulunya dia seorang sukses. Aktivitasnya sebagai penulis, dramawan, pelukis dan aktris membawanya dia melanglang buana. Beberapa penghargaan telah diraihnya. Bahkan untuk jasa mengharumkan nama bangsa, dia sempat mendapat penghargaan langsung dari Presiden. Foto itu yang terpampang di feature koran tersebut.

Namun di akhir artikel dikatakan sekarang dia tinggal di panti jompo. Saat ini dia kekurangan uang. Dia bermaksud melego lukisan-lukisan yang dimilikinya. Kalau perlu dia bersedia menjual pula piala-piala penghargaannya. Dia terpaksa melakukan ini untuk membayar biaya tinggal di panti jompo. Dengan berat hati dia melakukannya, karena tak ada lagi yang membantu. Tak ada anak dan tak ada keluarga.

Sewaktu membaca ini, air mata Dina selalu meleleh. “Tidak. Saya punya anak, bahkan 2. Tapi sekarang ini rasanya seperti tak memiliki anak,” gumannya pelan.

Kedua anaknya sebenarnya tinggal di Indonesia. Bahkan salah satu tinggal di ibukota. Bila diperlukan sebenarnya dari rumah jompo ke rumah anaknya paling butuh waktu 6 jam. Karena dia tinggal di kota yang dikenal sebagai kota lumpia.

Suaminya juga masih ada. Semuanya! Ya, memang dia telah menikah 3 kali. Dua suami terakhirnya adalah orang asing. Hanya suami pertamanya orang Indonesia. Tapi sekarang dia tak tahu kemana keberadaan mereka.

Mereka mungkin tak peduli kabar dirinya. Dia juga tak peduli pada mereka. Pernikahannya bisa dikatakan selalu berakhir tragis.

Kesibukannya membuat hubungan suami-istri menjadi tak harmonis. Dia memang berobsesi dengan karir. Dia ingin meraih banyak impian. Entah itu karena mengejar sebuah impian atau balas dendam masa kecilnya yang suram dan miskin.

Dia bekerja hampir siang malam. Tak ada kamus libur di hari Sabtu-Minggu. Justru hari-hari itu adalah masa keemasan. Karena banyak order MC atau panggung justru di hari libur itu.

Namun kesibukannya itu justru menyebabkan pengkhianatan suaminya. Mereka ternyata bermain cinta di belakangnya. “Tak ada kata maaf kecuali putus,” katanya marah. Dia memang patut marah. Bagaimana mungkin kesetiaan cintanya dikhianati oleh suaminya. Padahal kalau mau dia bisa berkhianat, karena banyak sekali godaannya ke situ.

Tapi kompensasi kesibukannya itu dia bayar dengan memanjakan anak-anaknya. Anak ingin apa, akan dibelikan. Dia merasa sebenarnya apa yang diperjuangkannya toh juga untuk anak.

Ketika yang lain baru main PS, anaknya sudah dibelikan PS3. Bahkan kalau ada alat permainan baru dengan ringan tanpa pertimbangan, dia akan membelikannya. Yang jelas dia akan menggerojok anaknya dengan berbagai kemanjaan. Bahkan ketika anaknya menginjak SMA dia membelikan mobil untuk sekolah.

Tapi kini dia merasa dikhianati anaknya. Apa yang dirasa diperjuangkan untuk anak, sekarang mereka malah tak mempedulikannya. Kalau dia barusan datang ke rumah anaknya, yang muncul dari mereka adalah, “Kapan pulang?”. Sehingga kadang dia malas ke sana, bahkan akhirnya dia tak ke sana lagi.

Anaknya juga tak berusaha menanyakan kabarnya. Bahkan sepertinya tak peduli. Dulu kalau ditelpon selalu tak diangkat oleh mereka. Kalau misalkan titip pesan ke keluarganya, sepertinya tak disampaikan.

Dia merasa seperti ditinggalkan. Dia sudah tidak mau menghubungi lagi mereka. Padahal sebelumnya sudah juga jarang ke sana karena keenganan mereka. Jadinya sepertinya dia tak memiliki anak. Dia sekarang merasa sendiri. Tak punya siapa-siapa.

Diletakkan koran di meja. Disruputnya teh Rosella hasil berkebunnya di halaman belakang panti. Pelan-pelan disapunya air matanya dengan tangannya.

“Apa salah saya, Tuhan?”. Sekarang sudah bukan lelehan air mata lagi. Namun sudah meledak tangisannya. Kepalanya terangguk-angguk mengikuti tangisannya. Sekarang suara tangisannya itu melintas menembus ruangan-ruangan yang sepi di rumah panti jompo.

~~~
(Based on true story. Saya sendiri ketika membaca ceritanya tertegun. Saya sendiri juga takut bila mengalami seperti ini. Kira-kira wisdom apa yang bisa dipetik?

Mungkin teman-teman bisa urun saran/masukan. Atau menceritakan kisahnya yang mungkin pernah didengar atau teman atau yang pernah diketahui. Kalau sungkan, silakan email/message secara pribadi.

Oh ya, saya ingin tahu berapa jumlah pembaca artikel ini. Silakan saja setelah membaca artikel ini klik pada ‘like’.) (TSA, 14/11/2009 subuh)

~~~
*Mochamad Yusuf adalah konsultan senior TI, pembicara publik, pengajar sekaligus developer website & software. Aktif menulis dan bukunya telah terbit, “99 Jurus Sukses Mengembangkan Bisnis Lewat Internet”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di profil Facebooknya.