Tapi apa lacur? Kurang dari seminggu pembantunya pergi sambil membawa beberapa kekayaannya. Ada gelang, kalung termasuk uang tunai. Yang lebih menjengkelkan pembantu lamanya juga ikut pergi.

sakit hati
Oleh: Mochamad Yusuf*

Kelihatannya konyol. Juga remeh. Tapi karena seringnya masalah ini timbul, Karina Suwandi sudah tak menganggapnya demikian. Dulu dia malu membicarakan hal ini dengan orang lain. Bahkan dengan orang tuanya. Tapi sekarang dia sudah membulatkan tekad mengutarakan ke orang tuanya.

Dia sudah lelah dengan permasalahan sepele ini. Dia juga sudah jengkel sekaligus sakit hati. Apalagi kasus yang terakhir. Baginya ini sudah bukan masalah hati, tapi sudah kriminal. Tapi dia tetap belum habis pikir bagaimana hal itu bisa terjadi.

Ya, memang bagi sebagian orang menganggap kasus ini sebagai kasus remeh. Ya, ini masalah keluarnya pembantu rumah tangga yang sering tanpa pamit. Atau pamit dengan tak jujur.

Suatu ketika pembantunya pamit pulang, karena ada neneknya yang meninggal. Dia minta ijin tak lama, ya sekitar 2-3 hari. Namun sampai 2 minggu tak kembali. Tiba-tiba Karina melihatnya di pasar perumahan. Ternyata dia sudah jadi pembantu orang lain di perumahan yang sama. Hanya beda blok.

Lain kali pembantunya yang lain minta ijin pulang ke kampung, karena anaknya sakit keras. Dia kepikiran, tak tenang karena di rumah hanya ada suaminya. Dia mengira suaminya pasti tak sanggup menanganinya. Dia ingin pulang merawat anaknya.

Karena Karina juga merasakan hal demikian kalau anaknya sakit, maka dia mengijinkan pulang. Namun ternyata tak kembali setelah berminggu-minggu. Dan dia dapat kabar dari pembantu sebelah yang satu kampung dengannya, sekarang dia sudah jadi TKW.

Ini yang pamitnya tak jujur. Yang pamit jujur sering terjadi pas lebaran. Ketika pamit mudik, mereka sering sekalian mengundurkan diri. Dia bilang tak akan kembali. Yang sering menjengkelkan, pembantu itu ternyata kembali ke perumahannya. Tapi ke rumah blok lain atau ke perumahan sebelah. Ini diketahui setelah mengantar anaknya ke sekolah. Ternyata pembantu itu juga mengantar anak majikannya ke sekolah. Sekolah yang sama!

Kalau seperti begini dia ingin marah! Marah karena jengkel sekaligus capek. Tapi dia tak tahu harus melampiaskan ke siapa. Akibatnya sering suami dan anaknya yang kena semprot kekesalannya ini.

Ya, dia patut jengkel dan kesal. Karena dia bermaksud baik dengan memberi pekerjaan, tapi sepertinya mereka tak berterima kasih. Bahkan mengkhianatinya.

Seperti kasus terakhirnya. Suatu waktu tukang sayur langganan bilang bahwa ada orang yang butuh pekerjaan. Dia saudara tetangga rumah petak kontrakan. Sebenarnya dia sudah punya pembantu. Tapi dia memang merasa bahwa rumah besarnya itu tak cukup satu pembantu. Apalagi harus mengasuh anak semata wayangnya yang masih balita. Karena itu dia bilang ke tukang sayurnya agar dia datang saja ke rumah. Ngobrol-ngobrol dulu.

Malamnya dia datang. Dia cerita latar belakang yang menyedihkan. Dia ditinggal suaminya yang tak bertanggung jawab. Orang tuanya sudah tua sehingga tak bisa kerja di desa. Dan anaknya sendiri punya cacat. Untuk menyembuhkan ini perlu biaya yang besar. Sambil menceritakan ini, terlihat air matanya meleleh.

Karina tak tega. Apalagi dia memang butuh pembantu lagi. Dia diterima. Bahkan dia digaji sedikit lebih rendah dibanding pembantu sebelumnya. Padahal pembantu sebelumnya sudah kerja 1,5 tahun dengannya.

Tapi apa lacur? Kurang dari seminggu pembantunya pergi sambil membawa beberapa kekayaannya. Ada gelang, kalung termasuk uang tunai. Yang lebih menjengkelkan pembantu lamanya juga ikut pergi.

Waktu dia keluhkan ke tukang tetangga sayurnya, ternyata pembantu itu hanya bertemu pas di bis waktu dia pulang kampung. Dan dia segan untuk melaporkan ke polisi. Kerugiannya sih sedikit, sekitar 2,5 juta. Namun kerugian immaterialnya lebih terasa. Dan ini tak mungkin dikembalikan oleh polisi.

Kalau sudah begini, dia kerap putus asa. Ingin saja berhenti bekerja. Hanya di rumah mengasuh anak dan merawat rumah. Tapi dia sayang dengan karir yang sudah dibangunnya. Dia juga sayang dengan pendidikan yang ditempuhnya. Dia sudah S2 yang diraihnya dari luar negeri. Dia sendiri ketemu suaminya waktu kuliah di luar negeri itu.

Kalau tak ada pembantu, pekerjaannya berantakan. Bahkan suaminya juga. Pas pembantu pamit itu, terpaksa dia cuti, ijin bahkan bolos. Kalau beberapa hari belum terpecahkan, dia terpaksa membawa anaknya ke orang tuanya. Tapi dia tak tega membawa anaknya yang masih balita, harus melakukan perjalanan jauh setiap hari. Meski sekalipun naik mobil. Rumahnya memang di luar kota, di pinggiran kota besar.

Pernah juga dia menitipkan anaknya ke tempat penitipan anak. Tapi dia tak tega pula dengan anaknya yang baru dijemput malam-malam. Karena memang dia baru sampai rumah selepas Isya’. Malah sebenarnya tempat penitipan anaknya sudah tutup. Dia harus mengambilnya di rumah pengasuhnya.

Kalau dibilang gaji pembantunya kurang, rasanya dia sudah melebihkan daripada standar yang diberikan tetangga di perumahan tersebut. Kalau masalah fasilitas, rasanya sama. Pembantunya bisa memakai apa yang ada di rumah. Kalau aturan-aturan, juga tak ada yang kaku dan ketat. Standar-standar saja. Misal: kalau dia bermain dengan tetangga sebelah, dia tak boleh sampai malam. Maksimal pukul 10 sudah kembali ke rumah. Dia juga tak boleh menerima tamu di dalam rumah. Bisa di teras. Juga dia merasa tak cerewet amat. Standarlah.

Karina geleng-geleng tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Bahkan kini dia mulai pesimis dengan masa depan buah hatinya. Dalam masa keemasannya ini, di bawah 5 tahun, dia sudah berganti-ganti pembantu tak terhitung. Hari ini dia sudah genap 3 hari bolos. Dan juga sudah 3 hari pula suaminya tak masuk kerja. Mereka bergantian tak masuk kerja. Total mereka berdua sudah 6 hari tak kerja.

Apalagi yang harus dilakukannya? (TSA, 17/11/2009 subuh)

~~~
Anda punya usulan untuk Karina yang lagi bingung dan sakit hati itu? Mungkin anda bisa menceritakan kisah anda sendiri atau yang pernah anda dengar. Kalau sungkan, silakan email/message secara pribadi.

Based on true story. Oh ya, saya ingin tahu berapa jumlah pembaca artikel ini. Silakan saja setelah membaca artikel ini klik pada ‘like’.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah konsultan senior TI, pembicara publik, pengajar sekaligus developer website & software. Aktif menulis dan bukunya telah terbit, “99 Jurus Sukses Mengembangkan Bisnis Lewat Internet”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di profil Facebooknya.

  • Share/Bookmark