Energize Your Life!
26 Oct
Sekarang tak hanya air matanya yang meleleh. Dia terisak-isak. Dia teringat kedua orang tuanya. Ayahnya meninggal karena kecelakaan. Lalu ibunya juga meninggal sesaat setelah melahirkan adiknya.
![]()
Oleh: Mochamad Yusuf*
Agus, tak habis pikir bagaimana Tuhan masih tega memperlakukannya seperti ini. Apa yang kurang dilakukannya. Semua sudah dijalankan. Ibadah tak pernah ketinggalan. Tingkah lakunya sudah dijaga. Bekerja juga sudah halal. Dia berusaha mengerjakan apa yang diperintahkanNya, dan menjauhi laranganNya. Tapi mengapa Tuhan masih membalasnya dengan seperti ini.
Air matanya meleleh. Dia memandangi anaknya yang ketiga tergolek di ranjang sebuah RS. Dia diagnosis mengidap penyakit langka: GBS. Penyakit lumpuh tiba-tiba. Sudah seminggu ini seluruh badannya tak bisa digerakkan. Dia hanya bisa menggoyangkan kepalanya, termasuk masih bisa bicara.
“Yah”, mata kecilnya memandang tajam Agus, “Ada apa? Kok Ayah menangis?” “Tak apa Nak,” jawab si Agus, “Tidur ya.. Saya buka jendelanya ya biar lebih sejuk.” Kamar perawatan ini memang tidak dilengkapi AC.
Setelah membuka jendela, dia berjalan keluar. Dia tak tega terus melihat keadaan anaknya. Dia merasa Tuhan tak adil. Bagaimana bisa dia yang merasa sudah menjadi manusia beriman, masih digoda cobaan yang berat. Tetapi dia begitu melihat banyak manusia yang digelimang dosa masih terus meneguk kenikmatan dunia.
Hatinya sakit. Dia selama ini telah tulus mencintaiNya, namun dia tetap dibalas dengan kejam seperti ini. Dia merasa seperti dikhianati.
Agus merasa sedih. Dia merasa tidak ada orang bahkan sesuatu yang bisa disandari. Sesuatu yang terakhir dia bisa merasa bersandar, Tuhan, juga telah meninggalkannya.
Sebulanan ini dia menganggur. Perusahaannya memPHK-nya. Karena perusahaannya tenggelam oleh semburan lumpur yang menjadi bahan pembicaraan seluruh negeri. Padahal dia merasa di pekerjaan ini yang paling enak dibanding sebelumnya. Entah, sudah berapa kali dia berganti-ganti pekerjaan. Dengan modal ijazah SMA, memang tidak terlalu banyak pilihan pekerjaan baginya.
Meski gajinya sebagai sopir tak cukup, tapi dia bersyukur karena keluarganya masih bisa makan. Selain keluarga; istri dan 3 anak dia masih menanggung adiknya. Adiknya mengalami bongkok. Dan sejak lulus SMP dia tak mau melanjutkan sekolah. Karena keadaan itu dia tak bisa bekerja. Sehari-harinya lontang lantung.
Tapi kalau harus ditambah pengobatan anaknya, dia sudah tak mampu lagi. Tadi dokter menanyakan apakah mau menggunakan obat yang harganya sekitar 1,5 juta. Padahal sehari harus digerojok selama 5 kali. Dan itu harus berlangsung selama minimal 5 hari. Kalau tidak diobati dengan obat itu, takutnya kelumpuhan itu akan menyerang organ dalam tubuh seperti jantung. Kalau sudah terserang, nyawanya sudah pasti tak dapat diselamatkan.
Sekarang tak hanya air matanya yang meleleh. Dia terisak-isak. Dia teringat kedua orang tuanya yang meninggalkannya sejak masih kecil. Ayahnya meninggal karena kecelakaan. Lalu ibunya meninggal sesaat setelah melahirkan adiknya.
Komplit. Dia merasa sebagai manusia yang paling tidak beruntung sedunia. Orang yang paling disakiti hatinya.
~~~
Agus tak habis pikir. Bagaimana Tuhan memperlakukannya seperti ini. Bukan, bukan karena dia merasa dikhianati seperti beberapa waktus ebelumnya. Tapi dia merasa tak memahami skenarionya.
Waktu dia menangis di RS 4 bulan lalu, ada seseorang bapak yang mendatanginya. Sepertinya dia tak tega melihat Agus menangis. Arman nama bapak itu.
Singkat cerita Agus menceritakan peristiwa yang dialaminya, termasuk sejarah hidupnya. Tak disangka Arman adalah kakak kandung bapaknya. Alias pamannya.
Waktu huru hara tahun 1965, dia terpisah dari keluarga kakeknya. Waktu itu ada pencegatan oleh sekelompok manusia yang katanya mencari seseorang. Akhirnya keluarga itu terpisah. Meski kemudian berkumpul kembali, kakak bapaknya itu tak bertemu lagi. Keluarganya mengangapnya telah meninggal, karena memang banyak kejadian seperti itu.
Ternyata dia diselamatkan oleh sebuah keluarga. Dan untuk keselamatan mereka mengungsi ke luar pulau. Mereka di sana bekerja keras. Babat alas. Menjadikan hutan menjadi perkebunan yang subur; kelapa sawit, kopi, cengkeh dan lainnya. Mereka akhirnya kaya raya.
Selama itu dia mencari keluarganya yang hilang. Tapi Arman kehilangan jejak keluarganya. Arman tak menyangka harus bertemu kembali dengan keponakan, anak kakanya, di RS dengan situasi seperti ini.
Setelah itu biaya pengobatan anak Agus ditanggung pamannya. Dan setelah sembuh keluarganya diboyong untuk ikut mengurus bisnisnya di sana. Kini dia sudah tak kekurangan lagi.
Sekarang Agus menjadi bersyukur. Tuhan telah membuat skenario rumit untuk dirinya. Dia paham dengan maksud skenario itu. Tuhan bisa saja membuat skenario yang mudah. Dia bisa bertemu dengan pamannya, dan lalu dia bahagia.
Tidak. Skenario itu tak akan membuat dia bersyukur. Dia merasakan nikmatnya dunia hanya sebagai keniscayaan. Tapi dengan skenario seperti ini, dia akan merasakan nikmatnya dunia setelah sebelumnya merasakan pahitnya dunia. Seperti saat berbuka puasa setelah seharian berpuasa.
Kini dia sadar sakit hati kadang diperlukan untuk semakin merasakan nikmatnya Tuhan. Dan menjadikannya sebagai makluk yang bertakwa.
~~~
“Dan jika kamu menghitung nikmat Tuhan, tidaklah dapat kamu menghitungnya. [QS: 14:34]. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? [QS 55: 13]” (TSA, 26/10/2009 subuh)
~~~
*Mochamad Yusuf adalah konsultan senior TI, pembicara publik, pengajar sekaligus developer website & software. Aktif menulis dan bukunya telah terbit, “99 Jurus Sukses Mengembangkan Bisnis Lewat Internet”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di profil Facebooknya.
Leave a reply