Energize Your Life!
27 Oct
“Salah, kamu Pras,” kata Sentot membatin. Aku dan istri sejak dulu menginginkan anak. Menginjak pernikahan ke-12 tahun, dia belum dikaruniai anak juga. Padahal segala daya dan upaya telah dilakukan.
![]()
Oleh: Mochamad Yusuf*
“Tak gendong kemana-mana, tak gendong kemana-mana…,” suara ringtone memecah keheningan kamar itu. Terus berbunyi seperti tak menghiraukan kalau pemiliknya bisa saja mengindahkan. Sang pemilik HP meski telah terlelap nyenyak, ternyata tetap bisa terjaga dengan ringtone HP itu.
Matanya terbuka. Dilihatnya jam dinding pemberian sebuah bank swasta. Jarum pendek dan panjang sudah hampir menunjuk angka 12. Perlahan tapi pasti diraihnya HP Nokia N-Gage kesayangannya.
Sebagai seorang reporter TV, Sentot sudah terbiasa dengan panggilan malam-malam seperti ini. HP-nya tak pernah mati. Dan dia selalu terjaga dengan cepat bila ada ringtone meski di tengah malam. Apalagi kalau Mbah Surip yang ‘ngamen’ seperti ini. Karena ini berarti Prasetyo juru kamera menelponnya.
“Halo!” sapa Sentot. “Tot, tolong aku.” Suara di sana terdengar terengah-engah. Sentot heran, berita segenting apapun biasanya tak akan bikin panik Prasetyo.
“Tenang Pras. Tenang. Ada berita apa? Ada gempa lagi ta?” tanyanya. Yah, beberapa waktu lalu dia harus bangun malam-malam karena harus meliput gempa.
“Tidak. Ini bukan gempa. Ini tentang aku,” jawab Prasetyo, “Anakku di RS. Kakinya tertembak oleh polisi karena berusaha melarikan diri.” Hah? Tidak salah dengar nih. Bukankah anaknya yang tertua masih SMA. Lalu apa hubungannya dengan polisi dan melarikan diri.
“Sudahlah. Ceritanya panjang. Biar di mobil saja aku ceritakan,” Prasetyo seakan tahu pertanyaan-pertanyaan yang mencuat di otak Sentot. “Sekarang aku minta tolong pinjam mobil kantor kita. Tolong jemput aku ke rumah. Ada istri dan beberapa kerabat mau ikut juga. Karena itu aku butuh mobil,” cerocosnya.
~~~
Kabin di Avanza itu hening. Bahkan tak ada suara radio. Yang ada hanya suara tangis istri Prasetyo. Prasetyo sekarang di belakang kemudi. Memang mobil kantor dibawa oleh Sentot, karena secara kepangkatan lebih tinggi. Namun kalau dinas, Sentot yang mengemudikan.
“Sudahlah Ma,” suara Prasetyo memecah kebuntuan pikiran orang-orang berada di mobil. Selain Prasetyo dan istri, ada orang tua dan kakak istrinya. Kebetulan kakaknya menjadi polisi.
“Seandainya engkau tak melahirkan dia. Hanya bikin susah orang tua saja,” tiba-tiba meledak suara Prasetyo. Sepertinya dia sudah tak sabar menghadapi kelakuan anaknya.
Sentot sudah sering mendengar kenakalan anak Prasetyo. Maklum mereka sudah menjadi teman sejak lama. Bahkan sejak masih kuliah. Bekerja bareng sudah dilakukan jauh sebelum di TV ini.
“Untung, kamu belum punya anak Tot,” sergah Prasetyo. “Kamu pasti tak akan terbebani dengan permasalahan seperti ini. Berulang-ulang. Aku bosan dan capek terus berurusan dengan masalah akibat ulahnya. Dulu dengan sekolah. Lain kali dengan tetangga. Malah sekarang dengan polisi.”
Sentot terdiam. “Salah, kamu Pras,” kata Sentot dalam hati. Aku dan istri sejak dulu sudah menginginkan anak. Menginjak pernikahan ke-12 tahun, dia belum dikaruniai anak juga. Padahal segala daya dan upaya telah dilakukan. Baik secara medis dan non medis. Tak terhitung pula biaya yang telah dikeluarkan. Yang terbesar dia pernah mencoba bayi tabung. Meski sudah menghabiskan puluhan juta, hasilnya tetap nihil.
“Salah kamu Pras. Aku ingin sekali punya anak. Apapun dia,” katanya mantap. “Kamu tak tahu Tot,” kata Prasetyo, “Anakku sudah kriminal. Sebelum ini sebenarnya anakku telah memperkosa teman tetangganya. Aku pusing bahkan sampai putus asa dengan permasalahan ini. Kamu tahu kan, aku nggak masuk beberapa hari. Sebenarnya bukan mengurus kematian kerabat seperti aku minta ijin ke kantor. Tapi mengurus masalah ini.”
Ya, Sentot ingat kejadian itu. Karena dia terpaksa tandem dengan juru kamera lain. Padahal mereka sudah terbiasa dengan pola kerja yang sudah terbina.
“Sebenarnya permasalahan ini sudah clear. Kita setuju menikahkan mereka. Tapi dia baru SMA. Yang diperkosa malah baru SMP. Mau jadi apa mereka kelak kalau sudah nikah di usia sedini itu? Sekarang dia berurusan dengan polisi lagi. Lebih gawat lagi.”
Ternyata anaknya Prasetyo menjadi pengedar narkoba. Sudah beberapa hari dia disanggong polisi, namun dia selalu berhasil mengelabui polisi. Namun sepandai-pandai tupai melompat, pasti terjatuh juga. Apalagi kriminal yang belum banyak pengalaman seperti dia.
Akhirnya dia berhasil dibekuk. Namun ketika polisi lengah, dia berusaha melarikan diri. Namun pelor panas telah menghunjam kaki kanannya, setelah 3 tembakan peringatan diletuskan. Setelah itu dia tak berkutiik lagi. Sekarang mereka menjenguknya di RS sekalian mengurus permasalahan baru ini.
Sentot sekarang mulai sadar dengan cobaan tak segera anak dimilikinya.
Pernah suatu ketika seorang teman berujar guyon bahwa dengan tak memiliki anak berarti terbebas juga dengan permasalahan yang berkaitan dengan anak. Anak demikian juga harta adalah sebuah cobaan.
Tentu saja, kita bisa dengan mantap berkata, “Saya akan bisa membina istri dan anak dengan baik.” Tapi kita hanyalah manusia yang tak tahu masa depan. Kita tak tahu hal-hal apa yang akan terjadi di masa mendatang.
Dia jadi teringat cerita Nabi Khidir. Dalam perjalanan bersama Nabi Musa, dia membunuh seorang anak. Nabi Musa yang mengikutinya, heran bahkan marah. Ternyata Nabi Khidir membunuh anak ini, karena kelak anak ini jadi anak durhaka yang akan menyusahkan kedua orang tuanya. Bahkan menyeret mereka ke kemusyrikan. Padahal kedua orang tua itu sebelumnya adalah manusia yang alim. Dengan membunuh anak ini, berati menyelamatkan akhlak kedua orang tuanya. Toh, setelah ini kedua orang tua itu akan dianugerahi anak lagi yang sholeh.
Sekarang Sentot sadar bahwa keinginan manusia dan skenario Tuhan berbeda. Justru karena kasih dan sayangnya Tuhan telah membuat skenario yang lebih bagus lagi. Yang lebih baik dan tepat untuk kita. Sayangnya kita selalu merasa keinginan kitalah yang paling baik.
~~~
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Tuhanlah pahala yang besar [QS 64:15].” (TSA, 27/1072009 subuh).
~~~
*Mochamad Yusuf adalah konsultan senior TI, pembicara publik, pengajar sekaligus developer website & software. Aktif menulis dan bukunya telah terbit, “99 Jurus Sukses Mengembangkan Bisnis Lewat Internet”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di profil Facebooknya.
Leave a reply