Energize Your Life!
28 Oct
Air matanya meleleh. Dia putuskan untuk mengundurkan diri. Saat itu juga dia menulis surat pengunduran diri. Sebenarnya ini yang sudah ketiga kalinya. Tapi sekarang dia bertekat akan menyampaikan.
![]()
Oleh: Mochamad Yusuf*
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Tuhanlah yang memiliki rencana atas kita. Meski begitu kita diperintahkan untuk selalu berusaha (ikhtiar). Iktiar adalah bentuk pencapaian takdir kita. Kita tidak akan tahu takdir kita, kalau tak berusaha mencapainya.
Misal waktu kecil kita ingin jadi seperti David Beckham. Sejak kecil kita berlatih. Latihan bisa 3 jam sehari. Namun meski sudah berlatih keras, ternyata kita tetap tak bisa semahir teman lainnya.
Atau suatu ketika pas tanding latihan, jatuh dan ada luka serius di tulang rusuk. Akibatnya tidak bisa menjadi pemain sepak bola. Dan diam-diam harus mengubur cita-cita menjadi pemain profesional.
Namun hal itu terjadi setelah kita usahakan. Bukan tanpa usaha, terus kita bilang takdirnya kita bukan pemain sepak bola.
Kalau tak diusahakan, kita bisa menyesal seumur hidup. Karena kita tak tahu apakah takdir kita memang ke sana atau tidak. Siapa tahu memang ada takdir ke sana. Tapi kalau diusahakan dan tetap gagal, kita akan menerima takdir itu.
Jangankan pada Tuhan kita tahu rencanaNya. Pada manusia lain saja, kita tak tahu rencana yang mereka buat. Bahkan sekalipun rencana itu untuk kita. Ini seperti yang dialami oleh Bayu Anggoro.
~~~
Bayu tak tahu kenapa bosnya seperti tak suka dengan dia. Sejak bergabung di perusahaan itu, dia selalu mendapat tugas yang beragam dan berat. Awalnya dia pikir itu karena dia karyawan baru. Masih percobaan. Tapi setelah bertahun-tahun tetap tidak berubah.
Sejak bergabung dia tidak pernah lama di sebuah departemen. Setahun maksimal dia sudah dipindah ke departemen lain. Padahal dia merasa sudah mencapai prestasi. Bahkan prestasi yang luar biasa, yang tak pernah dicapai oleh karyawan sebelumnya.
Suatu ketika dia diminta membangun sebuah unit bisnis baru. Capek-capek membangunnya, setelah mulai berjalan diserahkan kepada yang lain. Bahkan pada yang lebih muda. Padahal dia mulai merencanakan sejak awal. Dia yang melakukan pengurusan ijin, perekrutan, pembelian mesin sampai hal-hal kecil lainnya.
Dia merasa sakit hati. Kenapa dia tidak dihargai?
Bahkan dia minta cuti, sering kali ditolak. Padahal karyawan yang baru bekerja sudah bisa mengambil jatah cuti sampai habis. Kalau dia ketahuan pulang tepat waktu, sudah disemprot oleh bosnya. Padahal dia melihat yang lain dibolehkan.
Padahal dia selalu bekerja dengan benar. Jujur, bekerja keras dan loyal. Tak pernah menolak perintah bos. Bahkan tak pernah iri dengan teman karyawan lain yang mendapat fasilitas lebih. Misal mobil dinas yang diberi, tahun pembuatannya sudah lama. Lebih lama daripada yang lain. Memang lebih mewah. Tapi itu pada jamannya!
Meski begitu dia mencoba berpikir positif. Bersabar dengan semuanya. Tapi sekarang sudah melampui tahun ke-5.
Dia merasa sedih. Dia mencoba-coba mencari tahu alasan bosnya berlaku demikian. Apakah karena pendidikannya yang rendah? Ya, dia memang cuma lulusan diploma. Bukan sarjana seperti yang lain. Kalau memang tidak boleh, kenapa dulu diterima?
Atau… dia memang tak tahu sinyal yang dikirim bosnya? Mungkin bosnya minta dia mengundurkan diri. Cuma karena dia tak merasa ‘dipush’ saja, sehingga dia tetap ikhlas bekerja. Tetap bekerja normal.
~~~
Suatu hari dia tak tahan. Dia dimarahi habis-habisan bosnya karena melakukan kesalahan. Sebenarnya kesalahan kecil. Tapi memang ada kerugian. Tapi kalau dia mau membantah, ada teman lain yang nilai kerugiannya lebih banyak.
Air matanya meleleh. Dia putuskan untuk mengundurkan diri. Saat itu juga dia menulis surat pengunduran diri. Sebenarnya ini yang sudah ketiga kalinya. Tapi setiap mau menyampaikan ke bosnya, dia sudah mendapat tugas baru lainnya. Dan dia tak sempat membicarakan maksudnya itu.
Tapi sekarang dia bertekat akan menyampaikan. Apapun yang terjadi.
Waktu sudah di depan ruang bosnya, dia diminta menunggu oleh sekretarisnya. Karena ada tamu penting yang datang. Dia adalah pemilik perusahaan ini. Pemiliknya dari luar negeri yang jarang sekali datang.
Awalnya dia sabar menunggu. Tapi keputusan yang mempengaruhi masa depan ini, mempengaruhi ketenangannya. Dia mulai gelisah. Sampai suatu saat dia tak tahan, dan memberanikan masuk ke ruang bosnya. Sang sekretaris melongo melihat sikapnya itu.
Ketika sudah bersiap membuka pintu, ternyata pintu dibuka. Di depannya sang bos dan seorang bule yang dikatakan sebagai pemiliknya.
“Oh Bayu. Kebetulan kamu sudah di sini,” kata sang bos, “Pak, perkenalkan ini Bayu Anggoro.” “Oh dia ini yang kamu maksudkan,” kata sang pemilik, “Mulai kapan?” “Secepatnya Pak. Bulan depan dia sudah siap. Saya sudah menyiapkannya sejak lama,” jawab sang Bos.
Bayu melongo saja dengan percakapan yang menyangkut dia, tapi tak paham yang dimaksudkan oleh mereka.
~~~
Air mata Bayu meleleh. Kali ini bukan karena kesal dan sakit hati dengan bosnya. Tapi sebuah kejutan kebahagiaan yang tak disangka. Ternyata bosnya minta pensiun. Dia ingin bersama anaknya yang ada di luar negeri. Dia sudah merasa tua dan ingin lebih dekat dengan anak dan cucunya.
Sejak lama dia sebenarnya ingin pensiun. Tapi tak dibolehkan. Dan dia sendiri juga ragu akan penerusnya. Tapi sejak melihat Bayu, dia merasa Bayu sangat cocok meneruskan perusahaan ini.
Karena itu sejak awal dia melatihnya dengan mencari pengalaman di berbagai departemen dan pembentukan berbagai unit bisnis. Sekarang dia mantap dengan keputusan pensiunnya. Dan sang pemilik menyetujui keputusannya.
Padahal sebenarnya Bayu bukan paling senior. Masih banyak manager yang lebih senior. Bahkan tak ada hubungan kerabat dengan sang bos, seperti beberapa manager lainnya.
Perlahan-lahan Bayu merogoh sakunya, mengambil surat pengunduran dirinya. Dirobek-robek perlahan sambil terisak-isak. Ternyata bosnya justru sayang padanya, sehingga sepertinya dia disia-siakan.
Kini dia paham dengan takdir dan ikhtiar. Dan pentingnya selalu bersabar.
~~~
“Sesungguhnya Kami menciptakan tiap-tiap sesuatu menurut takdir (yang telah ditentukan). [QS 54:49]” (28/10/2009)
~~~
*Mochamad Yusuf adalah konsultan senior TI, pembicara publik, pengajar sekaligus developer website & software. Aktif menulis dan bukunya telah terbit, “99 Jurus Sukses Mengembangkan Bisnis Lewat Internet”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di profil Facebooknya.
Leave a reply