Energize Your Life!
Banyak diantara kita terlalu sibuk dengan aktifitas sehari-hari. Aktifitas dan rutinitas ternyata sudah ‘membunuh’ perhatian dan momen penting yang harus dinikmati bersama orang yang kita kasihi.
Ada seorang pengusaha muda yang pagi itu terburu-buru berangkat kantor karena ia bangun rada kesiangan. Sementara pagi itu ia ada meeting dengan rekan bisnisnya. Karena terburu-buru, ia tidak sempat menikmati sarapan pagi buatan isterinya. Ia lalu memutuskan untuk mampir ke sebuah toko untuk membeli roti sebagai ganti sarapan pagi. Pikirnya, “Nanti roti ini dimakan di kantor saja”.
Sebuah sajak penghormatan buat Ibu dari Wiji Thukul, peraih Yap Thiam Hien Award 2002. Sebuah renungan yang mengingatkan kapan terakhir kita memberi hormat, berterima kasih dan membalas budi padanya.
ibu pernah mengusirku minggat dari rumah
tetapi menangis ketika aku susah
ibu tak bisa memejamkan mata
bila adikku tak bisa tidur karena lapar
Sobat, pernahkah dirimu merasakan hal seperti ini?
Rasa bersalah yang teramat sangat. Jauh dari orang tua yang sekarang hanya tinggal berdua. Tak ada lagi putera-puteri yang tersisa. Semuanya berada dalam radius yang sangat jauh, menempuh episode kehidupan masing-masing.
Betapa sepinya mereka.
Sewaktu bayi, entah berapa kali kita mengganggu tidur nyenyak ayah yang mungkin sangat kelelahan setelah seharian bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita. Mungkin juga kotoran kita ikut tertelan ibu ketika kita buang ‘pup’ di saat ibu sedang makan.
Tak sedikitpun si istri mengeluarkan air mata, hanya pasrah dan ikhlas yang tampak pada wajahnya. Sementara si kecil Nisa hanya memandang sambil terisak. Dia tahu bapaknya telah pergi untuk selamanya.
Kisah ini mungkin sudah berlalu sangat lama kurang lebih empat tahun yang lalu. Tapi semua itu masih lekat tersimpan dalam benak saya. Betapa saat itu saya melihat seorang wanita dengan sangat tabah dan tegar mengantar kepergian sang suami tercinta ke pangkuan sang Khaliq.
Maafkan aku Ayah, aku tak pernah membayangkan sedemikian besar cinta dan pengorbananmu kepadaku. Kamu tak pernah mengeluh meski semua itu sering terbalaskan dengan bantahan dan sikap kurang hormatku.
Sewaktu usiaku belum lima tahun, aku hampir tak pernah mengenalnya. Bukan karena usiaku yang belum bisa mengenal secara detail siapapun, tapi lebih karena pria ini hampir tidak pernah kujumpai. Kecuali sesekali di hari minggu, ia seharian penuh berada di rumah dan mengajakku bermain. Namun meski sekali, aku merasa sangat senang dengan keberadaanya.
Recent Comments