Energize Your Life!
Dia menangis bermalam-malam. Dan berbulan-bulan dia merasakan sakitnya hati bagai pisau ditusukkan dari belakang. Bagaimana mungkin tulusnya cinta dibalas dengan berpalingnya cinta.
Oleh: Mochamad Yusuf*
Pengusaha itu marah dan kecewa sekaligus. Puluhan tahun bisnis itu dikelola dari kecil sampai demikian besar. Berkali-kali dia menepis usaha yang meruntuhkan bisnisnya seperti demo dan upaya perusakan karena perusahaannya dianggap antek negara tertentu. Namun dia tetap tegar dan cerdas menangkis itu semua.
Saya tercenung. “Ah, pedagang kecil, Suf,” kata saya dalam hati, “Untungnya sangat kecil. Kalau tak begitu, malah nggak dapat untung sama sekali.” Ah ya, mungkin ini hanya untuk pedagang kecil.
Oleh: Mochamad Yusuf*
Ada pasar di depan perumahan saya. Tidak cukup besar. Namun cukup lengkaplah. Masyarakat sekitar perumahan berbelanja di sini. Suatu waktu ketika jalan-jalan dengan Zelda, putri saya, terbit keinginan melakukan sesuatu. Ini timbul setelah saya lihat timbangan namun entah penjualnya dimana.
Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston. Mereka berjalan dengan malu-malu menuju kantor pimpinan Harvard University. Mereka meminta janji.
Sang sekretaris universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.
Sering kita berharap terlalu tinggi. Sesuatu yang belum jelas, masih jauh di angan-angan. Ironisnya yang sudah ada dan yang sudah dimiliki disia-siakan. Yang terjadi kemudian adalah penyesalan.
Oleh: Mochamad Yusuf*
Waktu kecil suatu ketika saya disuruh makan, saya bilang, “Nggak dulu. Saya nunggu nasi selamatan tetangga sebelah.” Saya tahu tetangga sebelah ada acara syukuran. Karena Ibu diminta membantu. Dan jelas terlihat keramaian seperti terop dan loud speaker yang sudah ada. Dan nasi selamatan memang sungguh enak. Lengkap ada ayam, telur, tahu, tempe, sayur dan lainnya.
Benarkah bangsa Indonesia adalah bangsa yang penuh tenggang rasa/tepo seliro? Yakni begitu memperhatikan kepentingan yang lain. Namun kalau kita sempatkan melihat situasi di jalan, mungkin kita ragu.
Oleh: Mochamad Yusuf*
Pagi ini ketika berangkat kerja, terjadi kemacetan di sebuah jalan. Saya dan istri heran, jarang sekali sebenarnya jalan ini macet. Memang jalan ini sempit. Hanya pas 2 mobil sedang berpapasan. Tapi kepadatan kendaraan yang lalu-lalang tak begitu banyak.
Rumah besar itu kosong. Dulu penuh dengan keriuhan, gelak canda dan pertengkaran penghuninya, sekarang kosong. Penghuninya keluar rumah. Bahkan jauh ke luar negeri. Sekarang pemiliknya termangu sedih.
Oleh: Mochamad Yusuf*
Saat reuni kita sering bertukar kabar kondisi terakhirnya; tinggal di mana sekarang, kerja dimana, anaknya berapa. Setelah itu bercerita masa lalu yang mengesankan. Cerita suka duka yang dilalui waktu sekolah dulu. Dan kadang baru paham sebuah kejadian setelah sekarang menjadi ‘terbuka’. Jadi tertawa bareng mengenangnya.
Lebaran lalu anda mungkin dipenuhi dengan kunjungan reuni. Entah reuni kuliah, SMA, SMP, bahkan SD! Ada yang sukses, biasa, bahkan ada yang hebat padahal dulunya tidak. Amati bagaimana jalan hidupnya.
Oleh: Mochamad Yusuf*
Mendatangi reuni tentu saja menyenangkan. Bertemu teman yang mungkin sejak lulus sudah tidak berjumpa lagi. Itu mungkin sudah tahunan bahkan puluhan tahun lalu. Padahal mereka teman akrab atau teman sebangku kita.
Recent Comments