Energize Your Life!
Saat ini mungkin kita sudah kembali ke kota tempat mencari nafkah. Sebelumnya pas lebaran kita mudik ke kampung halaman. Kita temukan kebahagiaan dalam mudik itu. Tapi ada kenikmatan lain. Apa itu?
Oleh: Mochamad Yusuf*
Mudik adalah perjalanan ke kampung halaman. Tempat di mana kita dilahirkan dan dibesarkan. Atau tempat di mana orang tua tinggal. Bisa pula tempat para kerabat berada. Yang jelas, mudik adalah perjalanan silaturahmi ke orang-orang terdekat kita.
Insya Allah hari ini puasa terakhir. Besok lebaran. Tapi di ujung Ramadhan ini saya malu. Malu dengan Ramadhan. 29 hari mengingatkan saya akan sesuatu. Sesuatu bisa dilakukan, meski tidak dilakukan.
Bukan pada Zidan Ramadhan. Itu anak saya. Tapi pada bulan suci Ramadhan. Bulan Ramadhan mengingatkan saya telah melupakan sesuatu. Sesuatu yang seperti tidak bisa dilakukan. Kenyataannya bisa dikerjakan.
Menjadi besar tanpa penderitaan sekaligus cacian orang, itulah kemauan banyak sekali anak muda. Dan kalau memang kehidupan seperti itu ada, tentu ada terlalu banyak manusia yang juga menginginkannya. Sayangnya wajah kehidupan seperti ini tidak pernah ada. Sehingga jadilah cita-cita menjadi besar tanpa penderitaan hanya sebagai khayalan manusia malas yang tidak pernah mencoba.
oleh Gede Prama
Ini serupa dengan khayalan seorang sahabat Amerika yang bertanya: kenapa Yesus tidak lahir di Amerika di abad ke-21 ini? Rekan lainnya sesama Amerika menimpali sambil bercanda: memangnya ada wanita Amerika yang masih perawan? Namanya juga canda, tentu tidak disarankan untuk memikirkannya terlalu serius. Apalagi tersinggung. Namun bercanda atau tidak, serius atau sangat serius, kisah-kisah manusia kuat dan terhormat hampir semuanya berisi kisah-kisah penuh cacian sekaligus penderitaan. Sebutlah deretan nama-nama mengagumkan seperti Nelson Mandela, Mahatma Gandhi sampai dengan Dalai Lama. Semuanya dibikin kuat sekaligus terhormat oleh penderitaan.
Tidak perlu enggan menjalankan apapun atas dasar kebaikan. Jika saat ini belum kelihatan hasilnya, maka terus lanjutkan dan segera lupakan. Biarkan hukum sebab akibat mengatur siklusnya.
Hukum Sebab Akibat
The Law of Cause and Effect
“Segala sesuatu yang terjadi tidak mungkin disebabkan oleh kebetulan, tentu ada sebabnya.”
– Andrew Ho –
Alam semesta yang begitu besar beserta isinya ternyata tunduk dan patuh tehadap hukum alam. Salah satu hukum alam tersebut menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi di alam semesta merupakan akibat dari sesuatu. Fenomena di seluruh belahan dunia, baik yang buruk atau positif, semua dikarenakan suatu sebab. Itulah yang dinamakan hukum sebab akibat, yang merupakan induk dari semua hukum alam yang ada.
Pada suatu zaman di Tiongkok, hiduplah seorang jenderal besar yang selalu menang dalam setiap pertempuran. Karena itulah, ia dijuluki “Sang Jenderal Penakluk” oleh rakyat.
Suatu ketika, dalam sebuah pertempuran, ia dan pasukannya terdesak oleh pasukan lawan yang berkali lipat lebih banyak. Mereka melarikan diri, namun terdesak sampai ke pinggir jurang. Pada saat itu para prajurit Sang Jenderal menjadi putus asa dan ingin menyerah kepada musuh saja.
Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses.
Beberapa waktu yang lalu, di Mesir hidup seorang sufi yang tersohor bernama Zun-Nun. Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya, “Guru, saya belum paham mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di zaman ini berpakaian necis amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk tujuan banyak hal lain.”
Ah, betapa sederhananya. Bila kita mengaku berkuasa atas apa yang kita “miliki”, kita tercebur dalam lautan ilusi yang menenggelamkan saat apa yang kita “miliki” hanyut terdera ombak.
Di manakah kita bisa temukan keindahan hidup?Di sebuah sudut alun-alun kota ini, sepasang suami istri pedagang kaki lima meringkuk dalam tenda dikelilingi oleh beberapa anaknya.
Recent Comments